Kamis, 27 Februari 2014

Aku Janji

Selamat senja, kamu! :)

Maaf aku menjadi seseorang yang menyebalkan hari ini. Ketika kamu memiliki masalah yang meresahkanmu, aku bukan jadi sandaran yang menenangkan. Aku rasa aku cukup mengusik harimu dengan menyampaikan opini-opini yang menambah kegelisahan hati. Sejatinya, setelah mengenalku begitu lama, kamu akan tahu aku bukan seseorang yang mampu menyatakan segala yang orang lain harapkan. Aku hanya ingin mengungkap kebenaran yang sebagian orang simpan atau mungkin dibicarakan di belakang.

Maaf lagi-lagi aku mempertanyakan kepergianmu. Mungkin terlalu dini untuk didiskusikan atau tidak etis karena kita sedang menjalani hubungan? Di surat sebelumnya, aku sudah faham tentang menjalani yang sekarang sudah ada tanpa perlu mengomentari apapun tentang kepergian. Hanya saja, aku ingin mengingatkan ketika akan bergegas, berilah aku tanda agar aku bersiap-siap pada masa yang tak pernah aku inginkan.

Maaf aku telah membuatmu merasa bersalah pada apa yang setiap orang lakukan di dunia: kebebasan. Sepertimu, akupun ingin diingatkan ketika melakukan yang seharusnya tidak aku lakukan. Ketika seseorang memiliki hubungan spesial dengan orang lain, resiko untuk menyakiti atau merasa disakiti akan lebih besar. Itu salah satu penguji untuk berfikir tidak hanya dengan hati namun juga hati-hati.

Maaf aku tidak mengerti dengan baik kondisimu disana. Belum pernah memasuki dunia kerja menjadikan aku bukan teman yang baik untuk berbagi cerita. Apa yang aku katakan hanyalah pandangan orang awam. Dan jika tiba saatnya nanti, mungkin aku yang akan banyak mengeluh dan meneleponmu berulang-ulang karena kerepotan mengurusi pekerjaan.

Aku yang sejauh ini berfikiran ke depan bukan tidak membayangkan perasaanmu. Kadang kehendak untuk menjadi 'yang satu-satunya' bagimu membuat emosiku tidak terkontrol dengan baik. Aku akan menemukan jalan untuk mengatasinya. Aku janji.



Ttd,
Yang menyayangimu selalu.

0 komentar:

Poskan Komentar