Kamis, 13 Februari 2014

Cukup

Selamat senja, kamu!

Aku terkesan mendapati kamu dengan hebat mengokohkan komitmen kita. Lagi-lagi aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Memiliki seseorang yang tak henti-hentinya meleraikan aku dan cinta agar berdamai. Tak melulu mementingkan perasaan dan mengesampingkan logika. Tak jadi yang egois dan berusaha untuk merasa 'cukup'.

Mengartikan kata 'cukup' aku sedikit kesulitan. Siapapun di dunia pasti memiliki keinginan akan 'sesuatu' meskipun kebutuhan-kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Kita seolah dirancang untuk tak pernah merasa puas. Selalu ada desakan dalam dada yang bergelora demi memperoleh sesuatu yang setelah kita mendapatkannya kita akan merasa bahagia. Sesuatu itu bisa saja yang dapat dipegang atau hal-hal yang tak nyata seperti kebutuhan akan kasih sayang misalnya atau kebutuhan untuk dihargai oleh rekan kerja.

Kecukupan sebenarnya diperoleh orang-orang yang tak lupa bersyukur. Seperti aku yang dipertemukan Tuhan dengan kamu. Kita sama-sama tahu kalau beberapa kali kita bertengkar karena hal yang sepele, yang tak seharusnya jadi permasalahan. Tapi, kita memaknainya sebagai bumbu. Setelah berbaikan, ada sesuatu yang tumbuh lebih besar dan lebih dalam; Cinta kita. Dengan kamu yang berada disana dan aku yang di Jogjakarta, rindu semakin berkuasa. Aku bersyukur, meski jarak semakin angkuh, kamu berhasil membuatku merasa cukup. Dan di dalam doa, aku menyertakan namamu ketika menghadapNya.

Aku telah menemukan cinta yang menjagaku dengan baik selama beberapa bulan belakangan; Menyayangi dan disayangi kamu. Itu sudah lebih dari cukup.


Terimakasih ya, sudah meluangkan waktu untuk membaca dan membalas surat-suratku.



Tertanda,
Perempuan yang menunggu ucapan ini darimu segera:

"I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love you and honor you all the days of my life."

0 komentar:

Poskan Komentar