Sabtu, 15 Februari 2014

Hujan Abu di Hari merah Jambu

Membuka surat dengan menunduk khidmat.

Jam sepuluh. Hampir siang. Sesak. Sinar Lampu. Jarak Pandang. Abu-abu. Abu.

Kotaku diselimuti sesuatu yang dibawa angin dari barat. pintu-pintu rumah dan toko tertutup rapat. Pemiliknya tidak ingin rumah dan usaha mereka dipenuhi dampak muntahan Gunung di jawa Timur. Kotaku sepi. Tak ada kegiatan berarti disini. Pantas saja pengendara di persimpangan jalan dapat dihitung jari. Diantaranya relawan muda berinisiatif membagikan masker biru dan oranye. mereka sudah sibuk sejak terbit matahari.

Harusnya aku bahagia pada hari setelah hari -yang katanya- penuh cinta. Tetapi merasakan secara langsung ini semua, aku sadar kotaku sedang berduka. Aku terkunci di dalam ruangan 3x4 ini. Keluar sebentar saja pakaian yang ku kenakan dikerumuni abu. Memang hujan abu sudah reda sejak kemarin sore. Namun, sisa-sisanya mengendap di atap, menumpang di atas daun-daun, berserakan di depan halaman. Tentu saja mengganggu penglihatan dan pernafasan.

Ah, maaf sayang. kali ini suratku penuh keluhan. Aku pikir-pikir lagi bahwa valentine bukan hari yang istimewa. Jauh lebih baik dan menyenangkan hari apapun yang ada kamu, menemaniku. kita bisa merayakan kebersamaan tanpa perlu mengikuti kebiasaan pasangan lain di bulan kedua setiap tahun, kan? Jangan khawatir tentang apapun yang aku harapkan darimu di hari merah jambu. Kita memiliki pensil warna sendiri untuk mewarnai cerita kita. Dan itu bisa kita lakukan kapan saja.

Kelud adalah salah satu 'cinta' dari Tuhan Yang Maha Segala.
kita, dan semua manusia adalah perawat baginya.

Semoga kedamaian segera menghampiri para gunung siaga.
aamiinn..

Ttd,
Bagian dari merah jambu hatimu.

0 komentar:

Poskan Komentar