Jumat, 07 Februari 2014

Masalah

Salam jumat penuh berkah, calon imam! 

Sedang apa disana? Sesampainya suratku mungkin kamu hanya memiliki waktu kurang dari 10 menit untuk membacanya karena kamu sudah harus direbut oleh kegiatan di salah satu cafe baru itu. Selamat ya, atas prestasi hari pertama menjalankan tugas perdana!

Hari ini, aku ingin bercerita lebih dari pada biasanya. Mungkin sedikit sendu bagimu. Tapi, aku tak bisa menyimpannya sendiri. Berbagi cerita kepadamu membuatku merasa nyaman sekali, seperti dengan sahabat sendiri.

Aku mendapatkan masalah yang tak hanya satu, dalam kehidupanku. Apa lagi perihal cinta, rasanya sudah cukup untuk bertualang, berusaha menemukan pendamping yang memiliki kecocokan. Kecocokan itu sudah sangat pas untuk menggantikan kata mehamami, mengerti, mampu menyayangi, mencintai dan menjaga dengan baik. Karena semua kriteria itu belum tentu dapat membuat kita cocok, kan? Tentu ada hal ‘magis’ sehingga kita bisa jatuh pada cinta yang kita cari.

Bagiku, masalah dimulai ketika aku memaksa hati yang patah untuk disembuhkan lagi. Karena sesungguhnya aku tak punya hati yang utuh untuk ku berikan padamu. Terlalu banyak rongga disana disini akibat luka di masa lalu. Mungkin akulah kupu-kupu malang yang tak sanggup terbang. Aku yang butuh pertolongan untuk diselamatkan. Aku yang butuh pengobatan untuk bisa kembali mengangkasa, menjadikan putik-putik tak kehilangan pemanisnya. Aku, aku butuh pria yang membuatku kembali percaya; cinta tak pernah memiliki daya untuk menyakiti pemiliknya.

Mempercayakan hati pada pria yang sanggup meyakinkanku berulang kali adalah masalahku yang lain. Telak, ini adalah satu alasan kenapa pria tak mampu bertahan bersamaku. Seolah makhluk egois yang hanya dipenuhi drama, aku mementingkan diriku sendiri. Menginginkan pria faham betul bagaimana mencintai dengan hati dan hati-hati. Pengalaman rumah tangga ibu tak ingin aku rasakan hingga habis usiaku. Aku tak ingin kehilangan pria yang ku cintai dengan alasan ia mencintai perempuan lain. Perempuan mana yang rela cinta kekasihnya dibagi dua? Tak ada, tak pernah ada. 

“Masalah akan jadi masalah kalau kita mandang itu jadi masalah. Tuhan udah nulis takdir untuk kita dan kita diberi kebebasan untuk membacanya.”

Aku diberikan petuah itu oleh salah satu teman terbaikku. Ia sepenuhnya benar. Aku akan tetap memiliki pemikiran dangkal tentang permasalahku jika tak pernah ada inisiatif untuk merawat sendiri luka-luka itu. Aku tak akan kemana-mana jika tak pernah ada langkah untuk percaya. Kamu tak akan menemukan aku jika aku masih menganggap semua pria sama saja. Aku mengubah diriku menjadi yang lebih baik agar dapat disempurnakan oleh kamu.



Dengan cinta,
Yang mengkategorikan kamu sebagai sumber (pemecah) masalahku.


Inspirasi menulis: kak @rintikkecil

0 komentar:

Poskan Komentar