Sabtu, 01 Februari 2014

Mendekatkan Keberadaan

Umm, kalimat awal yang selalu membingungkan. Ingin menanyakan kabar tapi aku yakin kamu baik-baik saja disana. Meskipun aku tahu kalau kamu masih suka menunda-nunda waktu makan dan seringkali begadang. Dua hal yang membuatku hampir frustasi untuk mengingatkanmu; berulang-ulang.

Sayang, Jogja cerah sekali hari ini. Tampaknya semesta sedang berbahagia ketika mengetahui kita berusaha saling mendekatkan "keberadaan" dengan bergantian mengirim surat saat jarak menjadi satu-satunya alasan paling angkuh dan menyebalkan, kadang-kadang.

Tetapi, kita sudah mencapai usia 21 bulan.
Begitu banyak permasalahan yang telah mampu kita lewati bersama.
Begitu banyak moment bersamamu yang meninggalkan senyuman ketika aku mengingatnya.
Begitu banyak melodi kerinduan ciptaanmu semenjak kita memulai kisah ini.
Begitu banyak keceriaan yang berhasil kita bagi di keluarga kecilmu, pun keluarga kecil milikku.
Begitu banyak perihal kehilangan yang menghantui kita dan di dalam imaji, kita ciptakan dunia kita sendiri hingga masing-masing kita masih dapat merasakan debar hangat pelukan, erat genggaman tangan dan beragam kalimat penguat di pertemuan terakhir hari itu, ketika detik-detik waktu berkejaran dan memaksamu segera membelakangiku. Aku merekamnya dengan baik, bahkan aku tahu wajahmu dibasahi sesuatu, sedang aku, entah bagaimana rupaku saat itu. Aku hanya merasakan satu, kehilanganmu.

Bukan tidak menyesakkan ketika harus membiasakan diri (lagi) melakukan segala sesuatu yang tanpamu bersamaku.
Bukan tidak menyedihkan ketika kedua lenganku begitu jauh untuk sekedar mendekapmu saat mengetahui sesuatu tak berjalan sesuai harapan, disana.
Bukan tidak menyesakkan ketika perempuan lain dengan leluasa dapat menjadi teman bicara dan bertukar ekspresi denganmu.
Bukan tidak menyedihkan ketika aku mulai bertingkah dan kamu kesulitan mencari cara menghiburku.

Kamu, yang tak pernah kehabisan cara untuk meyakinkanku kita akan baik-baik saja.
Kamu, yang tak pernah kehabisan cara untuk menemani setiap suka duka yang ku lalui tanpa alpa.
Kamu, yang tak pernah kehabisan cara untuk menyayangi, mencintai dan menjagaku dengan sebaik-baiknya adalah sebaik-baiknya pria yang berharga bagiku, bagi duniaku.

Cukup, pencarianku akan cinta aku cukupkan disini. Denganmu, aku merasa genap. Dan kita adalah takdir paling indah yang dihadiahkan Tuhan untukku. Tak ingin lebih kecuali kamu merasakan hal yang sama.



Salam rindu,

Yang Menjagamu dengan Hati.

0 komentar:

Poskan Komentar