Rabu, 19 Februari 2014

The Number One Man

Pagi sayang, maaf ya masih belum bisa ada di sisi kamu pagi ini. Tapi masih mau kan berjuang untuk kita? Aku tau kamu kuat. Baiklah, kita semakin kuat. Sejujurnya, setelah membaca suratmu kesedihan mengelilingiku. Tidak adil jika kamu  merasakan itu sendirian. Sungguh aku pun pernah -bahkan sering- mengkhawatirkan hal yang sama.

Jarak diciptakan untuk menjadi penghalang paling candu menantikan pertemuan. Hingga waktu-waktu menjelangnya memunculkan berbagai perasaan yang tidak diinginkan. Gelisah, cemburu, rindu, cemas yang bermula dari keinginan untuk diperhatikan lebih dari pasangan yang berkomitmen di satu kota. Jauh, selalu jadi alasan ampuh untuk memulai pertengkaran. Kesulitan bertatap muka untuk bertukar cerita yang spontan atau menunggu janji telfonan sampai rasanya segala yang ingin dibagi sudah basi adalah sebuah kewajaran yang harus menjadi makanan sehari-hari kita.

Tidak, aku tidak mengeluh. Aku hanya sudah hafal kegaulan-kegalauan ketika kamu tak disini. Kegalauan yang memaksaku untuk mulai 'gencar' mencarimu disaat kamu sedang menyuarakan informasi yang bermanfaat kepada pendengar -tentu saja, aktivitas yang sangat kamu sukai- atau ketika kamu sedang sibuk menyiapkan pesanan dua anak muda yang bergandengan tangan di sudut cafe berlantai dua itu. Aku benci untuk menjadi si egois yang membutuhkan kamu saat kamu sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan bagimu. Sesuatu yang berarti bagimu. Sesuatu yang sedang kamu usahakan untuk memperindah masa depanmu. sesuatu yang seharusnya aku mampu berbaur dengannya. Aku gagal untuk jadi partner yang memahami kamu jika aku terus-terusan merengek; meminta kamu yang mengerti ketidak sabaranku  bercerita tentang mata kuliah hari kamis yang menyebalkan atau apapun yang membuatku tak tenang. Aku yang tak tahu waktu. Aku yang ingin ditemani kamu. Aku yang butuh pelukan. Satu pelukan. Aku yang tak pernah mengatakan semua itu adalah gadis egois yang mencoba untuklebih kuat, sayang. Aku kira itu membantu.

I barely hard to understand. Cranky in most of time and selfish too. But you love me that much. Rasanya aku sudah sangat beruntung dan harus mensyukurinya agar Tuhan melipat gandakan yang sudah ada. Aku rasa menjadi si egois bukan sebuah kesyukuran. Justru membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya tidak ingin itu terjadi.

Bagaimana kita kuat untuk sesuatu yang mustahil bagi sebagian pasangan (baca: jarak) adalah penghargaan atas diri sendiri karena berhasil menjadi seseorang yang mampu mempercayai dan menyayangi sampai detik ini. Begitu banyak waktu dan moment berharga yang kita ciptakan tetapi kadang tidak 'diperhatikan' oleh pasangan lain. Seperti ketika kita menghabiskan waktu ngobrol ngalor ngidul. Aku dan kamu tertawa karena keanehan-keanehan pada diri kita. Aku merasa bahagia tanpa beban.

Sesungguhnya akan aku pertahankan ia yang selalu menjaga aku ketika sedang bersamaku dan menjaga perlakuannya ketika sedang jauh. Setelahnya, tak ada yang perlu kamu khawatirkan disini.

A real man will keep his deepest feeling. He'll only share it with his lover, mom and closest friend; not to public. And You do. Thank you for that. :)

No one could take the place of my number one man. See you on the next 2 months insyaallah :")




With love,
Your number one lady.

0 komentar:

Poskan Komentar