Senin, 26 Mei 2014

Dear Ayah (Bagian Pertama)

Selalu ada tempat untukmu disini:
di sepintas memori yang muncul sesekali.

Bagiku masa kecil tak pernah ada celanya secuilpun.
Aku tau rasanya bahagia, ayah.
Aku tau rasa senang dibelikan cotton candy
Atau favoritku:
Memintal balon dari pipet kuning kecil.
Ayah ingat kan  aku sering memintanya?

Aku juga tau keramaian pasar malam
Dimana aku, adik, ayah dan ibu
menelusuri toko-toko mini dan aneka permainan.
Kegembiraan bermain komedi putar,
Memasukkan bundaran-bundaran berbentuk gelang ke dalam botol,
Dan membeli bakso bakar sepulang dari sana
Bagaimana bisa aku melupakan semua itu, ayah?
Bagaimana bisa aku mengacuhkan sempurnanya rasa ingin tahuku dalam penjagaanmu?

Tapi ayah..
Aku bisa apa?
Selain membenamkan ingatan tentangmu dan tak membahasnya dengan ibu?
Bicaralah padaku, ayah..
Sebegitu menjengkelkan kah aku?
Sebegitu merepotkan kah aku?
Hingga tak ada sedikitpun keinginan darimu menemukan keberadaanku?

Ayah..
Jangan diam saja.
Tolong jawab aku.
Kali ini,
bungkam bukan jawaban terbaik
dari semua rindu yang menyesaki dadaku sejak kepergianmu.

Ayah..
Aku sakit.
Kesakitanku tak terlihat.
Kau mungkin tak akan pernah tahu
Tentang kesedihan bertahun-tahun
Bagi seorang anak perempuan di masa remajanya
Bagaimana ia memendam kenyataan
bahwa ia akan memiliki keluarga yang tak sesempurna masa kecilnya.

Ayah..
Tak perlu pulang.
Cukup berikan pernyataan:
Aku masih anak yang kau sayang.


26 Mei 2014



0 komentar:

Poskan Komentar