Jumat, 19 Desember 2014

Lagi-lagi laki-laki

"Bapak ada menghubungi?" Tanya paman.

"Semenjak pergi?" Sahutku, lalu paman segera mengangguk.

"Emang masih ingat?" Jawabku cepat.

Paman menatapku bingung, "Tentu saja, kamu kan anaknya."

Aku ingin menertawakan kalimat yang baru saja diutarakan paman. Bagaimana bisa Bapak ingat padaku, tak ada usaha apapun yang dilakukannya demi menemuiku, atau setidaknya sekedar menghubungi melalui telepon. Zaman sekarang kawan, manusia mana yang tak punya handphone pribadi? Manusia mana yang asing dengan google? Apalagi Bapak. Beliau terpelajar. Sulitkah baginya untuk pergi sebentar saja ke warnet, memesan 1 ruangan, mengarahkan kursor ke mozilla firefox, mengetik nama lengkapku di keyboard komputer kemudian menekan enter? Tentu saja akun sosial media milikku akan bermunculan dan ia akan segera menemukan keberadaanku.

-----------------------------------

"Kapan terakhir ketemu Bapak?"

"Tahun 2009"

"Apa yang Bapak katakan sebelum pergi?"

"Mbah sakit, jadi Bapak harus pulang, itu saja. Sejak itu, ia tak pernah kembali. Banyak kabar sampai padaku, Bapak menikah lagi dan punya anak dua. Tak apa, asal itu membahagiakannya. Aku tahu Bapak tak bahagia bersama kami, maka ia memilih pergi." Aku menjawabnya santai, tetapi tak bisa ku pungkiri terlalu banyak gemuruh di dalam dadaku.

Aku senang paman datang bersama istrinya. Tetapi aku juga terganggu dengan kenyataan bahwa paman mencuri-curi kesempatan menggoda wanita lain, seperti Bapak dulu.

Apa bagi laki-laki satu tidak cukup?
Apa laki-laki tak mampu lagi menghargai perempuannya jika sudah memiliki status yang sah?
Apa setiap laki-laki pernah 'bermain' dibelakang perempuannya?

Ah, lagi-lagi aku menyalahkan laki-laki.

Aku pernah membayangkan bagaimana kehidupanku di masa mendatang hingga ke hal buruk. Kawan, jika suatu hari aku mengetahui lelaki-ku menggoda wanita lain, aku akan segera mengemas perasaan kecewa lalu sibuk mengurusi kehidupanku sendiri. Aku rasa, jika ia menemukan kebahagiaan bersamaku, ia tak akan sanggup melakukan itu.

Kehidupan ini begitu rumit agar kau tidak merasa bosan. Ingat itu.

Yogyakarta yang basah,
Akhir tahun tertanggal 19, 2014.

0 komentar:

Poskan Komentar