Kamis, 27 Februari 2014

Aku Janji

Selamat senja, kamu! :)

Maaf aku menjadi seseorang yang menyebalkan hari ini. Ketika kamu memiliki masalah yang meresahkanmu, aku bukan jadi sandaran yang menenangkan. Aku rasa aku cukup mengusik harimu dengan menyampaikan opini-opini yang menambah kegelisahan hati. Sejatinya, setelah mengenalku begitu lama, kamu akan tahu aku bukan seseorang yang mampu menyatakan segala yang orang lain harapkan. Aku hanya ingin mengungkap kebenaran yang sebagian orang simpan atau mungkin dibicarakan di belakang.

Maaf lagi-lagi aku mempertanyakan kepergianmu. Mungkin terlalu dini untuk didiskusikan atau tidak etis karena kita sedang menjalani hubungan? Di surat sebelumnya, aku sudah faham tentang menjalani yang sekarang sudah ada tanpa perlu mengomentari apapun tentang kepergian. Hanya saja, aku ingin mengingatkan ketika akan bergegas, berilah aku tanda agar aku bersiap-siap pada masa yang tak pernah aku inginkan.

Maaf aku telah membuatmu merasa bersalah pada apa yang setiap orang lakukan di dunia: kebebasan. Sepertimu, akupun ingin diingatkan ketika melakukan yang seharusnya tidak aku lakukan. Ketika seseorang memiliki hubungan spesial dengan orang lain, resiko untuk menyakiti atau merasa disakiti akan lebih besar. Itu salah satu penguji untuk berfikir tidak hanya dengan hati namun juga hati-hati.

Maaf aku tidak mengerti dengan baik kondisimu disana. Belum pernah memasuki dunia kerja menjadikan aku bukan teman yang baik untuk berbagi cerita. Apa yang aku katakan hanyalah pandangan orang awam. Dan jika tiba saatnya nanti, mungkin aku yang akan banyak mengeluh dan meneleponmu berulang-ulang karena kerepotan mengurusi pekerjaan.

Aku yang sejauh ini berfikiran ke depan bukan tidak membayangkan perasaanmu. Kadang kehendak untuk menjadi 'yang satu-satunya' bagimu membuat emosiku tidak terkontrol dengan baik. Aku akan menemukan jalan untuk mengatasinya. Aku janji.



Ttd,
Yang menyayangimu selalu.

Selasa, 25 Februari 2014

Menjadi

Selamat siang laki-laki bermata coklat. Sehat, kan? Sudah makan? Masih sayang aku? Hihihi pertanyaan bodoh ya..

Mulanya aku hanya perempuan yang kemana-mana membawa satu rusuk titipan. Menginginkan yang terpisah kembali dipersatukan. Mendoakan pemiliknya cermat membaca garis yang disiapkan Tuhan. Berharap takdir memberikan jalan padaku dan pada ia di masa depan.

Hinga kamu hadir dalam kehidupanku. Memiliki andil dalam perubahan cara pandangku melihat dunia dan seisinya. Mengajariku memberi dan berisiatif pada sesama. Membantuku menenangkan kepanikan dan kemarahan. Dan akhirnya aku tahu aku sudah didekatkan pada pemilik satu rusukku.

Aku yang tak sebaik kamu memberikan kepercayaan
Aku yang tak setangguh kamu memelihara rindu
Aku yang tak sehebat kamu menjaga yang telah ada
Aku yang tak sekuat kamu mempertahankan kita,
adalah perempuan yang sedang mengusahakan kebaikan-kebaikan dalam hidupnya.
Memantaskan diri untuk mendampingi segala yang ada padamu.

Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan disana, kuatlah, kuatlah, kuatlah. Kamu selalu memiliki bahuku sebagai balas jasa pinjaman rusuk di dada kiriku.


Ttd
Costae Verae-mu.

Minggu, 23 Februari 2014

INGAT

Aloha, sayang.

Aku baru saja tiba di kostan. Sepanjang perjalanan mendung mengitari Kota Yogyakarta. Senja tertutup awan sehingga cerah jingganya tidak terlihat seperti biasanya. And you, suprised me! Satu boneka lucu angry bird dan jam tangan coklat dengan baground Paris juga dua CD yang berisi beberapa film dan  video dance ketika kamu perform disana. AAAAKK!! Thank you for the gift dear. :)

Hari ini aku membuatmu khawatir ya? Seperti yang sudah kamu tahu, salah satu kelemahanku ketika menghadapi suatu persoalan ialah fokus, fokus dan fokus. Aku merasa harus ikut andil sampai segala yang dibutuhkan benar-benar tuntas. Hingga jika ingin mengabarimu rasanya tak cukup hanya dengan berkirim pesan. Aku pasti akan membalasnya singkat-singkat dan lambat.

Kamu, selalu menjadi contoh yang baik untukku. Sesibuk apapun kamu disana, kamu selalu bisa memberikan kabar padaku. Sesempit apapun waktu untuk sekedar memberitahukan kamu sedang di jalan atau menyiapkan pesanan, kamu selalu punya waktu untuk aku. Iya, aku akan coba untuk menjadi yang baik lagi yaa. :)

Aku harus segera kembali ke asrama. Malam ini syukuran milad organisasi dan akulah penanggung jawab acara. Maaf ya, aku sedikit lebih sibuk dari biasanya. Dan besok pagi aku sudah mulai kuliah. Doakan segalanya berjalan sesuai harapanku ya.

Dan kamu, jaga kesehatan. Jangan biarkan tubuhmu terlalu letih. Jangan telat makan dan ingat aku selalu sayang kamu.




With love,
Your Partner

Jumat, 21 Februari 2014

Tentang Mimpi

Selamat hari jadi!

Rasanya baru kemarin kita mengenal satu sama lain. Melihat kamu yang memakai kemeja dilapisi jaket alm. ayah mengunjungi rumahku untuk pertama kalinya. Lucu ya kalau diingat-ingat kita sudah jauh melangkah dari sana? Lebih dekat dari sahabat, lebih mengisi dari saudara sendiri. Berdua, seperti memiliki dunia yang hanya kita saja.

Senja?
Aku pernah ingin berdiskusi denganmu tentang senja. Selain senja, aku juga suka hujan dan matahari terbit. Aku kira akan sangat manis memberikan bagian semesta untuk nama anak kita nanti. Senja untuk anak perempuan dan mungkin lucu sekali menamai anak laki-laki kita: fajar. mereka adalah anak-anak yag lincah titipan Tuhan yang akan kita jaga dan menjaga kita kelak. Ya, seperti cara kerja semesta.

Lihat, bahkan mimpi-mimpiku lebih jauh dari mimpi-mimpi yang pernah kamu utarakan. Kamu pasti membacanya dengan senyum sumringah. Ehm, kita akan melanjutkan semua yang kita cita-citakan ketika kamu mengunjungiku di bulan april ya. Semoga saja cuaca mendukung untuk mewujudkan perjalanan siang-malam yang kita rencanakan.

Kamu, baik-baik disana ya. Aku minta maaf karena secara fisik, tidak bisa mendukung dan menemani kamu. Kita punya cerita kita sendiri untuk diceritakan ke generasi berikutnya. Dan aku percaya, kita punya sekotak harta karun tentang perjuangan, kasih sayang, dan rindu yang tak ada habis-habisnya untuk diceritakan kepada mereka hingga ujung usia.



Ttd,
Yang menyanyangimu selalu.

Rabu, 19 Februari 2014

The Number One Man

Pagi sayang, maaf ya masih belum bisa ada di sisi kamu pagi ini. Tapi masih mau kan berjuang untuk kita? Aku tau kamu kuat. Baiklah, kita semakin kuat. Sejujurnya, setelah membaca suratmu kesedihan mengelilingiku. Tidak adil jika kamu  merasakan itu sendirian. Sungguh aku pun pernah -bahkan sering- mengkhawatirkan hal yang sama.

Jarak diciptakan untuk menjadi penghalang paling candu menantikan pertemuan. Hingga waktu-waktu menjelangnya memunculkan berbagai perasaan yang tidak diinginkan. Gelisah, cemburu, rindu, cemas yang bermula dari keinginan untuk diperhatikan lebih dari pasangan yang berkomitmen di satu kota. Jauh, selalu jadi alasan ampuh untuk memulai pertengkaran. Kesulitan bertatap muka untuk bertukar cerita yang spontan atau menunggu janji telfonan sampai rasanya segala yang ingin dibagi sudah basi adalah sebuah kewajaran yang harus menjadi makanan sehari-hari kita.

Tidak, aku tidak mengeluh. Aku hanya sudah hafal kegaulan-kegalauan ketika kamu tak disini. Kegalauan yang memaksaku untuk mulai 'gencar' mencarimu disaat kamu sedang menyuarakan informasi yang bermanfaat kepada pendengar -tentu saja, aktivitas yang sangat kamu sukai- atau ketika kamu sedang sibuk menyiapkan pesanan dua anak muda yang bergandengan tangan di sudut cafe berlantai dua itu. Aku benci untuk menjadi si egois yang membutuhkan kamu saat kamu sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan bagimu. Sesuatu yang berarti bagimu. Sesuatu yang sedang kamu usahakan untuk memperindah masa depanmu. sesuatu yang seharusnya aku mampu berbaur dengannya. Aku gagal untuk jadi partner yang memahami kamu jika aku terus-terusan merengek; meminta kamu yang mengerti ketidak sabaranku  bercerita tentang mata kuliah hari kamis yang menyebalkan atau apapun yang membuatku tak tenang. Aku yang tak tahu waktu. Aku yang ingin ditemani kamu. Aku yang butuh pelukan. Satu pelukan. Aku yang tak pernah mengatakan semua itu adalah gadis egois yang mencoba untuklebih kuat, sayang. Aku kira itu membantu.

I barely hard to understand. Cranky in most of time and selfish too. But you love me that much. Rasanya aku sudah sangat beruntung dan harus mensyukurinya agar Tuhan melipat gandakan yang sudah ada. Aku rasa menjadi si egois bukan sebuah kesyukuran. Justru membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya tidak ingin itu terjadi.

Bagaimana kita kuat untuk sesuatu yang mustahil bagi sebagian pasangan (baca: jarak) adalah penghargaan atas diri sendiri karena berhasil menjadi seseorang yang mampu mempercayai dan menyayangi sampai detik ini. Begitu banyak waktu dan moment berharga yang kita ciptakan tetapi kadang tidak 'diperhatikan' oleh pasangan lain. Seperti ketika kita menghabiskan waktu ngobrol ngalor ngidul. Aku dan kamu tertawa karena keanehan-keanehan pada diri kita. Aku merasa bahagia tanpa beban.

Sesungguhnya akan aku pertahankan ia yang selalu menjaga aku ketika sedang bersamaku dan menjaga perlakuannya ketika sedang jauh. Setelahnya, tak ada yang perlu kamu khawatirkan disini.

A real man will keep his deepest feeling. He'll only share it with his lover, mom and closest friend; not to public. And You do. Thank you for that. :)

No one could take the place of my number one man. See you on the next 2 months insyaallah :")




With love,
Your number one lady.

Senin, 17 Februari 2014

ROAR!!

Selamat senja, kamu! :)

Syukurlah semalam hujan turun di kotaku. Paling tidak, debu-debu tidak menguap seperti kemarin. Jogja terasa lebih cerah. Semoga saja hujan segera mampir di kotamu ya. Teman Ibu menelepon, katanya sumur disana sudah mulai mengering. Meminta tolong untuk orang banyak dan tujuannya positif adalah hal yang baik, bukan? Ayo coba menghadap kepala daerah, katakan pada beliau untuk memanggil pawang hujan. Dan taraaaaaa!! Aku yakin, Semua penduduknya akan dikelilingi kebahagiaan dan mendoakan keberkahan untuk pemimpin mereka.

Sayang..
Aku, Ibu dan adik baik-baik saja. Aku pastikan untuk memberitahukan kamu kabar terbaru disini. Terimakasih ya, karena begitu peduli dan memperhatikan keluargaku dengan baik. Mungkin besok adikku masuk sekolah seperti tadi, bahu-membahu membersihkan sisa-sisa abu tapi kegiatan belajar mengajarnya dimulai lusa. Dan Ibu? kamu pasti tahu peringai Ibu. Betapa cerewetnya ia karna kesulitan menjemur baju. Diletakkan sebentar saja, abu-abu yang bertebaran di udara sudah melekat. Sepatu, tempat sabun, ember untuk meletakkan baju kotor semuanya ditutup dengan kantong plastik. Ibu, memang se-perfect itu kalau urusan kebersihan. hihihihi.

Dan aku selalu suka sebenarnya kalau kamu mulai bergombal-ria. Mudah-mudahan saja hanya aku gadis yang diistimewakan seperti itu. Aku lebih suka kalau gombal itu disebut kejujuran yang tersiratkan. Karena kalau kamu sudah berhasil menyenangkan hati perempuan tapi itu hanya sebuah kebohongan. ROAR!! Perempuan yang udah terluka hatinya lebih menyeramkan dari induk singa. Meskipun begitu, rasa sayang jauh lebih besar daripada amarahnya saat itu, percayalah.

Semoga kamu dapat menyesuaikan diri pada dua sisi yang ada padaku.



With love,
Your partner.







Sabtu, 15 Februari 2014

Hujan Abu di Hari merah Jambu

Membuka surat dengan menunduk khidmat.

Jam sepuluh. Hampir siang. Sesak. Sinar Lampu. Jarak Pandang. Abu-abu. Abu.

Kotaku diselimuti sesuatu yang dibawa angin dari barat. pintu-pintu rumah dan toko tertutup rapat. Pemiliknya tidak ingin rumah dan usaha mereka dipenuhi dampak muntahan Gunung di jawa Timur. Kotaku sepi. Tak ada kegiatan berarti disini. Pantas saja pengendara di persimpangan jalan dapat dihitung jari. Diantaranya relawan muda berinisiatif membagikan masker biru dan oranye. mereka sudah sibuk sejak terbit matahari.

Harusnya aku bahagia pada hari setelah hari -yang katanya- penuh cinta. Tetapi merasakan secara langsung ini semua, aku sadar kotaku sedang berduka. Aku terkunci di dalam ruangan 3x4 ini. Keluar sebentar saja pakaian yang ku kenakan dikerumuni abu. Memang hujan abu sudah reda sejak kemarin sore. Namun, sisa-sisanya mengendap di atap, menumpang di atas daun-daun, berserakan di depan halaman. Tentu saja mengganggu penglihatan dan pernafasan.

Ah, maaf sayang. kali ini suratku penuh keluhan. Aku pikir-pikir lagi bahwa valentine bukan hari yang istimewa. Jauh lebih baik dan menyenangkan hari apapun yang ada kamu, menemaniku. kita bisa merayakan kebersamaan tanpa perlu mengikuti kebiasaan pasangan lain di bulan kedua setiap tahun, kan? Jangan khawatir tentang apapun yang aku harapkan darimu di hari merah jambu. Kita memiliki pensil warna sendiri untuk mewarnai cerita kita. Dan itu bisa kita lakukan kapan saja.

Kelud adalah salah satu 'cinta' dari Tuhan Yang Maha Segala.
kita, dan semua manusia adalah perawat baginya.

Semoga kedamaian segera menghampiri para gunung siaga.
aamiinn..

Ttd,
Bagian dari merah jambu hatimu.

Kamis, 13 Februari 2014

Cukup

Selamat senja, kamu!

Aku terkesan mendapati kamu dengan hebat mengokohkan komitmen kita. Lagi-lagi aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Memiliki seseorang yang tak henti-hentinya meleraikan aku dan cinta agar berdamai. Tak melulu mementingkan perasaan dan mengesampingkan logika. Tak jadi yang egois dan berusaha untuk merasa 'cukup'.

Mengartikan kata 'cukup' aku sedikit kesulitan. Siapapun di dunia pasti memiliki keinginan akan 'sesuatu' meskipun kebutuhan-kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Kita seolah dirancang untuk tak pernah merasa puas. Selalu ada desakan dalam dada yang bergelora demi memperoleh sesuatu yang setelah kita mendapatkannya kita akan merasa bahagia. Sesuatu itu bisa saja yang dapat dipegang atau hal-hal yang tak nyata seperti kebutuhan akan kasih sayang misalnya atau kebutuhan untuk dihargai oleh rekan kerja.

Kecukupan sebenarnya diperoleh orang-orang yang tak lupa bersyukur. Seperti aku yang dipertemukan Tuhan dengan kamu. Kita sama-sama tahu kalau beberapa kali kita bertengkar karena hal yang sepele, yang tak seharusnya jadi permasalahan. Tapi, kita memaknainya sebagai bumbu. Setelah berbaikan, ada sesuatu yang tumbuh lebih besar dan lebih dalam; Cinta kita. Dengan kamu yang berada disana dan aku yang di Jogjakarta, rindu semakin berkuasa. Aku bersyukur, meski jarak semakin angkuh, kamu berhasil membuatku merasa cukup. Dan di dalam doa, aku menyertakan namamu ketika menghadapNya.

Aku telah menemukan cinta yang menjagaku dengan baik selama beberapa bulan belakangan; Menyayangi dan disayangi kamu. Itu sudah lebih dari cukup.


Terimakasih ya, sudah meluangkan waktu untuk membaca dan membalas surat-suratku.



Tertanda,
Perempuan yang menunggu ucapan ini darimu segera:

"I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love you and honor you all the days of my life."

Selasa, 11 Februari 2014

Siapa mereka?

Selamat senja, Cinta!

Kau tahu kan? Membaca itu rutinitas menyenangkan karena kita akan memiliki banyak pengetahuan tentang apa saja, sesuai bahan bacaan kita. Tetapi beberapa bulan terakhir, aku meninggalkan kebiasaanku membaca. Aku disibukkkan dengan tugas kuliah dan kegiatan organisasi. And guess what! setelah berjam-jam eksis di social media, aku baru saja membaca surat yang ditujukan untuk perempuan termanis. Aku menemukan rasa bahagia bahkan hanya dari membaca suratnya saja. Aku khawatir sebenarnya penulis adalah pujangga masa kini yang diam-diam mengamati perempuan itu dan gemar sekali menyenangkan hatinya. Hey, aku sekedar mengagumi, toh tidak mungkin jika aku menggantikan si penerima surat, kan? Ah, andai saja si penulis memiliki salinan dirinya, aku pasti sudah mengajukan diri sebagai tujuan aksara-aksara diciptakan oleh (salinan) nya.

Seringkali aku bertanya, bagaimana ya mereka mampu mendekap perbedaan? maksudku, dari fisik saja mereka tidak seperti pasangan lainnya. Psssttt iyaa jujur saja aku tak bisa menahan keinginan untuk membaca semua isi blog pujangga, disana banyak foto mereka berdua. Si perempuan lebih tinggi dan berisi dari si pujanggga yang ku kagumi itu. Aku juga tahu keduanya tak bisa bertemu satu sama lain hingga berminggu-minggu. Cinta seperti apa yang sanggup seperti itu?

Sulit ditemukan pasangan yang 'meng-iri-kan'. Bayanganku, mereka pasti tak memiliki apapun yang bisa diperdebatkan. Sudah mengerti dan tahu bahwa mereka saling sayang ku kira cukup untuk menjaga hubungan sampai sekarang. Namun, kenyataan tak sesederhana itu, bukan? Dari mereka pula aku tahu, mereka telah melewati proses rumit dalam menghadapi permasalahan dan yang aku banggakan dari si penulis, ia memeluk kesedihan perempuan itu sebaik-baiknya penjagaan. Dan perempuan itu aku yakini sudah begitu jatuh hati padanya. Ya, Mereka sepakat untuk bahagia bersama-sama. Ah, romantis sekali.

kau tahu?
Jika terus membaca surat mereka, tak habis-habis keinginanku untuk mendampingi jodoh dan segera membahagiakannya kelak. Pujangga, Terimakasih ya sudah mengizinkan aku menjadi pembaca setia suratmu.


Ttd,
Your secret Admirer.




PS: Mereka itu kita.

Minggu, 09 Februari 2014

Menjaga Kita

Selamat hari libur!
Hari yang ditunggu-tunggu agar kamu bisa berkongkow ria bersama teman-teman dan memiliki waktu seharian penuh untuk melunasi hutang tidur tadi malam. Hari yang menyenangkan, bukan? :p

Membaca suratmu lagi-lagi aku cengengesan. Begitu banyak saat-saat 'mendebarkan' bersamamu yang sangat aku rindukan. Baiklah, sepulang dari selesainya studiku disini, kita harus sering jalan-jalan mengelilingi kota kecil itu ya? janji?

Sayang..
Sejak kamu hadir dalam hidupku dan menjadi bagian disana, kamu telah diizinkan untuk segala sesuatu. Aku rasa, kamupun begitu. Jadi, menjaga adalah hal yang sudah seharusnya kita lakukan. Terimakasih sudah mengingatkan  bahwa aku tidak sendirian. Selalu ada bahu untuk ku bersandar menceritakan kegelisahan, selalu ada tangan untuk membimbingku melakukan kebaikan, selalu ada kamu untuk perjalananku menuju masa depan.

Aku punya persediaan tiada batas untuk menyayangimu. kamu jangan lelah menjaga kita yaa. Memang kadang manja atau rewel ingin diperhatikan oleh kamu sering kumat, tapi itu salah satu kebutuhan ketika telah mempercayakan hati pada seseorang yang dicintai. Benar kan?

Karena rindu yang tak berkesudahan, butuh kamu sebagai alasan,
Costae Verae-mu.

Jumat, 07 Februari 2014

Masalah

Salam jumat penuh berkah, calon imam! 

Sedang apa disana? Sesampainya suratku mungkin kamu hanya memiliki waktu kurang dari 10 menit untuk membacanya karena kamu sudah harus direbut oleh kegiatan di salah satu cafe baru itu. Selamat ya, atas prestasi hari pertama menjalankan tugas perdana!

Hari ini, aku ingin bercerita lebih dari pada biasanya. Mungkin sedikit sendu bagimu. Tapi, aku tak bisa menyimpannya sendiri. Berbagi cerita kepadamu membuatku merasa nyaman sekali, seperti dengan sahabat sendiri.

Aku mendapatkan masalah yang tak hanya satu, dalam kehidupanku. Apa lagi perihal cinta, rasanya sudah cukup untuk bertualang, berusaha menemukan pendamping yang memiliki kecocokan. Kecocokan itu sudah sangat pas untuk menggantikan kata mehamami, mengerti, mampu menyayangi, mencintai dan menjaga dengan baik. Karena semua kriteria itu belum tentu dapat membuat kita cocok, kan? Tentu ada hal ‘magis’ sehingga kita bisa jatuh pada cinta yang kita cari.

Bagiku, masalah dimulai ketika aku memaksa hati yang patah untuk disembuhkan lagi. Karena sesungguhnya aku tak punya hati yang utuh untuk ku berikan padamu. Terlalu banyak rongga disana disini akibat luka di masa lalu. Mungkin akulah kupu-kupu malang yang tak sanggup terbang. Aku yang butuh pertolongan untuk diselamatkan. Aku yang butuh pengobatan untuk bisa kembali mengangkasa, menjadikan putik-putik tak kehilangan pemanisnya. Aku, aku butuh pria yang membuatku kembali percaya; cinta tak pernah memiliki daya untuk menyakiti pemiliknya.

Mempercayakan hati pada pria yang sanggup meyakinkanku berulang kali adalah masalahku yang lain. Telak, ini adalah satu alasan kenapa pria tak mampu bertahan bersamaku. Seolah makhluk egois yang hanya dipenuhi drama, aku mementingkan diriku sendiri. Menginginkan pria faham betul bagaimana mencintai dengan hati dan hati-hati. Pengalaman rumah tangga ibu tak ingin aku rasakan hingga habis usiaku. Aku tak ingin kehilangan pria yang ku cintai dengan alasan ia mencintai perempuan lain. Perempuan mana yang rela cinta kekasihnya dibagi dua? Tak ada, tak pernah ada. 

“Masalah akan jadi masalah kalau kita mandang itu jadi masalah. Tuhan udah nulis takdir untuk kita dan kita diberi kebebasan untuk membacanya.”

Aku diberikan petuah itu oleh salah satu teman terbaikku. Ia sepenuhnya benar. Aku akan tetap memiliki pemikiran dangkal tentang permasalahku jika tak pernah ada inisiatif untuk merawat sendiri luka-luka itu. Aku tak akan kemana-mana jika tak pernah ada langkah untuk percaya. Kamu tak akan menemukan aku jika aku masih menganggap semua pria sama saja. Aku mengubah diriku menjadi yang lebih baik agar dapat disempurnakan oleh kamu.



Dengan cinta,
Yang mengkategorikan kamu sebagai sumber (pemecah) masalahku.


Inspirasi menulis: kak @rintikkecil

Rabu, 05 Februari 2014

Pulang..

Siang, Mamas.

Sudah lama aku tidak memanggilmu dengan sebutan itu, ya kan mas? Kamu sih yang mulai duluan untuk menyebarluaskan ‘panggilan sayang’ masing-masing kita disini. Lucu ya, apalagi kalau mereka tahu kita memiliki banyak nama mesra yang lain.

Mmm, hari ini ujianku berakhir. Lega rasanya mengetahui waktu libur sudah sepenuhnya milikku. Tak diganggu jadwal kuliah atau ahh hampir saja aku lupa. Aku masih memiliki tanggung jawab menjadi bagian dari ikatan mahasiswa kota asal kita yang ada di Jogja. Maaf ya, aku sedikit lebih sibuk dari biasanya. Apalagi menjelang MILAD dari kelompok ini, aku termasuk di divisi acara. Mungkin banyak waktu akan ku habiskan di asrama untuk persiapan, mengevaluasi konsep dan melengkapi segala yang dibutuhkan ketika hari H. Tetapi tanpa perlu diragukan, aku selalu punya waktu untuk kamu. Jangan pernah sekalipun merasa aku tak tahu apapun tentang kamu disana karena itulah kita butuh berbagi cerita, itu salah satu cara kita untuk saling menyemangati satu sama lain.

Aku juga tahu disana kamu sedang giat-giatnya belajar menjalankan usaha baru. Pekerjaan lain setelah pekerjaan utama. Tetapi rindu tak ada habis-habisnya mengelilingi kita. Selalu saja merasa kurang jika hanya membalas pesan. Kita seolah punya kewajiaban untuk menemani pasangan ketika waktu istirahat menjelang. Dan aku selalu menyukai saat ini karena setelah seharian kamu menjalankan tugas dan bertemu berbagai kharakteristik orang, akulah satu-satunya tempatmu pulang. Sebagai pendampingmu, aku merasa begitu berarti.

Pulang..
Tak ada kehangatan yang paling dirindukan kecuali sehabis pergi jauh dari rumah; tempat kita bisa kembali menemukan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang kadang tak terlihat ketika kita masih tak beranjak dari sana.
Tak ada keinginan untuk merasakan semilyar kasih sayang orang-orang yang telah memberikan pembelajaran berharga untuk membentuk diri kita yang sekarang; kecuali tempat itulah asal muasalnya.
Tak ada kegemasan bermain-main lagi sepintas setelah mengingat masa kecil yang lugu dan sesukanya kecuali tempat paling aman di dunia.
Tak ada tempat paling nyaman yang menghangatkan, penuh rasa sayang yang membahagiakan dan asiknya bersenang-senang menjadi aku yang kekanak-kananan kecuali kamu.


Tunggu aku pulang ya,
Rumahmu.






pict: http://weheartit.com

Senin, 03 Februari 2014

Sesungguhnya Cintaku

Selamat hari senin, sayang! ^^
Maaf aku hampir saja terlambat mengirimkan surat. Mengikuti ujian hari ini cukup menambah daftar kegiatan yang harus aku lakukan termasuk menghapal dan memahami kemudian mengingat-ingat materi dosen metodologi penelitian kulitatif itu pada saat kuliah berlangsung. Seperti yang kamu bilang, bukankah sekarang adalah waktunya kita giat menanam ilmu pengetahuan? Agar dimasa mendatang manis panennya dapat kita rasakan?

Oya, salah satu temanmu berencana menikah tahun ini, kan? Kamu iri ya? Hihihihi sabar ya, aku selesaikan dulu studiku, lalu pulang menemanimu menabung dan inshaAllah kita akan segera mewujudkannya juga.

Semalaman kita telah berbicara perihal kehilangan yang seolah-olah kita sembunyikan. Aku akhirnya tahu, tidak hanya aku yang merasakan itu. Kamu mencoba menenangkan masing-masing kita yang berjauhan dengan mengatakan bahwa memang kehilangan tidak dapat dihindarkan tetapi pada hal-hal pasti, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita hanya harus fokus pada kebersamaan kita saat ini; bagaimana kita menjaganya dengan baik.

Ya, kamu mendapatkan sendiri jawaban dari suratmu. Aku bangga, bangga sekali karena kamu telah mampu membimbingku sejauh ini. Kita sama-sama belajar menjadi yang lebih baik lagi tanpa meninggalkan kenyamanan diri sendiri. Seingatku, aku jarang mengucapkan terimakasih padamu. Bahkan di dekatmu, aku kesulitan mengucap kata cinta karena aku merasa begitu bahagia hingga kata-kata tak lagi bisa mewakilkannya.

Sayang..
Terimakasih ya,
Untuk setiap cinta yang kamu berikan khusus hanya padaku.
Untuk setiap puisi juga alunan lagu yang kamu ciptakan dan nyanyikan sebagai penerang rindu.
Untuk setiap tingkah konyol yang tidak pernah gagal membuatku tertawa gemas melihatmu.
Untuk setiap ketangguhan yang kamu tularkan padaku, agar senantiasa kuat menjaga hubungan kita.
Terimakasih..

"Sesungguhnya cintaku selalu ada menjaga hari-harimu. Mengecup lembut lelahmu. Memeluk hangat sedihmu. Maafkan aku yang selalu tak disampingmu saat kau membutuhkan aku. Tapi ku ingin kau tahu. Cinta ini adalah milikmu, selalu, bersamamu."

Aku suka mengulang lagu ini. Terimakasih ya.. Cintaku juga begitu. :)



PS: Aku ingin menyaksikan sendiri ketegaran pohon eukaliptus. Apa benar ia seperti yang kamu ceritakan? Apa mungkin kita mampu lebih tangguh darinya?

Sabtu, 01 Februari 2014

Mendekatkan Keberadaan

Umm, kalimat awal yang selalu membingungkan. Ingin menanyakan kabar tapi aku yakin kamu baik-baik saja disana. Meskipun aku tahu kalau kamu masih suka menunda-nunda waktu makan dan seringkali begadang. Dua hal yang membuatku hampir frustasi untuk mengingatkanmu; berulang-ulang.

Sayang, Jogja cerah sekali hari ini. Tampaknya semesta sedang berbahagia ketika mengetahui kita berusaha saling mendekatkan "keberadaan" dengan bergantian mengirim surat saat jarak menjadi satu-satunya alasan paling angkuh dan menyebalkan, kadang-kadang.

Tetapi, kita sudah mencapai usia 21 bulan.
Begitu banyak permasalahan yang telah mampu kita lewati bersama.
Begitu banyak moment bersamamu yang meninggalkan senyuman ketika aku mengingatnya.
Begitu banyak melodi kerinduan ciptaanmu semenjak kita memulai kisah ini.
Begitu banyak keceriaan yang berhasil kita bagi di keluarga kecilmu, pun keluarga kecil milikku.
Begitu banyak perihal kehilangan yang menghantui kita dan di dalam imaji, kita ciptakan dunia kita sendiri hingga masing-masing kita masih dapat merasakan debar hangat pelukan, erat genggaman tangan dan beragam kalimat penguat di pertemuan terakhir hari itu, ketika detik-detik waktu berkejaran dan memaksamu segera membelakangiku. Aku merekamnya dengan baik, bahkan aku tahu wajahmu dibasahi sesuatu, sedang aku, entah bagaimana rupaku saat itu. Aku hanya merasakan satu, kehilanganmu.

Bukan tidak menyesakkan ketika harus membiasakan diri (lagi) melakukan segala sesuatu yang tanpamu bersamaku.
Bukan tidak menyedihkan ketika kedua lenganku begitu jauh untuk sekedar mendekapmu saat mengetahui sesuatu tak berjalan sesuai harapan, disana.
Bukan tidak menyesakkan ketika perempuan lain dengan leluasa dapat menjadi teman bicara dan bertukar ekspresi denganmu.
Bukan tidak menyedihkan ketika aku mulai bertingkah dan kamu kesulitan mencari cara menghiburku.

Kamu, yang tak pernah kehabisan cara untuk meyakinkanku kita akan baik-baik saja.
Kamu, yang tak pernah kehabisan cara untuk menemani setiap suka duka yang ku lalui tanpa alpa.
Kamu, yang tak pernah kehabisan cara untuk menyayangi, mencintai dan menjagaku dengan sebaik-baiknya adalah sebaik-baiknya pria yang berharga bagiku, bagi duniaku.

Cukup, pencarianku akan cinta aku cukupkan disini. Denganmu, aku merasa genap. Dan kita adalah takdir paling indah yang dihadiahkan Tuhan untukku. Tak ingin lebih kecuali kamu merasakan hal yang sama.



Salam rindu,

Yang Menjagamu dengan Hati.