Sabtu, 27 Desember 2014

Aku rindu.

Hujan menggigilkan ranting hingga menggetarkan daun-daun lalu menggugurkannya.

Hujan menyelimuti tanah kering hingga lembab dan terciumlah aroma khasnya.

Hujan sengaja mencari cara membangunkan lamunanku hingga buyarlah ingatan tentang teh dan dipan di beranda malam itu.

Aku rindu.
Pada setiap jejak yang kau cipta dari awal cerita.
Aku rindu.
Mencintaimu dengan kata-kata yang tiada jeda bermunculan di kepala.

Aku rindu.
Pada kita yang tertawa.
Pada kita yang bahagia.

Aku rindu.
rindu.
Sangat rindu.
Sangat sangat rindu.

Jumat, 26 Desember 2014

Hati seperti Ibu

Jika saja aku memiliki hati seperti ibu, mungkin rasa sakit tak tertanam dalam seperti ini.

Jika saja ibu meminjamkan hatinya kepadaku sebentar, aku akan belajar caranya bertahan dengan cinta, tanpa keegoisan didalamnya.

Jika saja aku bukanlah aku, mungkin aku benar-benar tak peduli.

Jumat, 19 Desember 2014

Lagi-lagi laki-laki

"Bapak ada menghubungi?" Tanya paman.

"Semenjak pergi?" Sahutku, lalu paman segera mengangguk.

"Emang masih ingat?" Jawabku cepat.

Paman menatapku bingung, "Tentu saja, kamu kan anaknya."

Aku ingin menertawakan kalimat yang baru saja diutarakan paman. Bagaimana bisa Bapak ingat padaku, tak ada usaha apapun yang dilakukannya demi menemuiku, atau setidaknya sekedar menghubungi melalui telepon. Zaman sekarang kawan, manusia mana yang tak punya handphone pribadi? Manusia mana yang asing dengan google? Apalagi Bapak. Beliau terpelajar. Sulitkah baginya untuk pergi sebentar saja ke warnet, memesan 1 ruangan, mengarahkan kursor ke mozilla firefox, mengetik nama lengkapku di keyboard komputer kemudian menekan enter? Tentu saja akun sosial media milikku akan bermunculan dan ia akan segera menemukan keberadaanku.

-----------------------------------

"Kapan terakhir ketemu Bapak?"

"Tahun 2009"

"Apa yang Bapak katakan sebelum pergi?"

"Mbah sakit, jadi Bapak harus pulang, itu saja. Sejak itu, ia tak pernah kembali. Banyak kabar sampai padaku, Bapak menikah lagi dan punya anak dua. Tak apa, asal itu membahagiakannya. Aku tahu Bapak tak bahagia bersama kami, maka ia memilih pergi." Aku menjawabnya santai, tetapi tak bisa ku pungkiri terlalu banyak gemuruh di dalam dadaku.

Aku senang paman datang bersama istrinya. Tetapi aku juga terganggu dengan kenyataan bahwa paman mencuri-curi kesempatan menggoda wanita lain, seperti Bapak dulu.

Apa bagi laki-laki satu tidak cukup?
Apa laki-laki tak mampu lagi menghargai perempuannya jika sudah memiliki status yang sah?
Apa setiap laki-laki pernah 'bermain' dibelakang perempuannya?

Ah, lagi-lagi aku menyalahkan laki-laki.

Aku pernah membayangkan bagaimana kehidupanku di masa mendatang hingga ke hal buruk. Kawan, jika suatu hari aku mengetahui lelaki-ku menggoda wanita lain, aku akan segera mengemas perasaan kecewa lalu sibuk mengurusi kehidupanku sendiri. Aku rasa, jika ia menemukan kebahagiaan bersamaku, ia tak akan sanggup melakukan itu.

Kehidupan ini begitu rumit agar kau tidak merasa bosan. Ingat itu.

Yogyakarta yang basah,
Akhir tahun tertanggal 19, 2014.

Rabu, 17 Desember 2014

Langit tampak muram hari ini

Diluar, hujan sibuk berjatuhan mendahului.
Aku, sesengukan sesekali.

Entah darimana asal-muasalnya. Pertahananku sudah sampai puncaknya. Berkali-kali ku katakan aku tak mengapa. Tetapi hati sibuk menyangkalnya.

Diantara kesadaran yang mengambang, dan tubuhku tak menopang seimbang, aku harap gundahku segera menghilang, maka aku memilih menghabiskan waktu di ranjang.

Menangisi kepedihan, mengumpat setiap kekesalan, yang tersisa ialah kehancuran. Aku telah diperdaya!
Aku dikuasai sepenuhnya oleh perasaanku sendiri!

Diakhir airmata, duka hanya sekedar lelucon saja.

Yogyakarta, Desember 2014.

Jumat, 12 Desember 2014

Bu, hari ini hari sendu.

Aku sedang membicarakan perihal rencana pernikahan dan satu-satunya yang aku pikirkan tak lain adalah engkau, Bu.

Impian yang beberapa kali kau ingatkan kepadaku bermunculan satu-satu. Tentang memilih dengan serius pendampingku hingga tutup usia, tentang kekhawatiran pekerjaanku di masa mendatang, tentang usaha men-sejahtera-kan kehidupan keluarga, melebihkan kecukupan anak-anakku nantinya, dan sebagian harapan lainnya ku tangkap sebagai doa agar kebahagiaan tak putus melingkupiku.

Bu, telah tiba masanya aku harus berhenti memikirkan diriku sendiri. Aku harus mengubah sikapku. Aku tahu itu. Tetapi di dalam perjalanannya seringkali aku lalai lalu kembali seperti semula.

Bu, andai aku memiliki cukup kekuatan, aku ingin mengangkat derajatmu di setiap rasa syukur. Andai aku memiliki cukup kesempatan, aku ingin ayah tahu -bahwa tanpanya- aku memiliki pahlawan yang aku banggakan seumur hidup.

Bu, apalah yang bisa aku balas untuk semua rasa cinta dan kerelaanmu menjagaku sampai sekarang, kecuali mewujudkan satu persatu mimpi yang pernah kau utarakan waktu itu; Melihatku lulus dengan nilai terbaik dan mendapatkan pekerjaan yang pantas, Memiliki taman dan kolam ikan koi, memiliki anak cucu yang soleh/ah serta mampu memenuhi rukun islam ke-lima.

Bu, akan aku segerakan semuanya. Ini janjiku. Janji seorang anak sulung. Anak perempuanmu.