Jumat, 30 Januari 2015

Hari H.

Tiga bulan lalu kamu meminta bantuan kekasih dari temanmu untuk membantu memesan tiket pesawat dari Malaysia menuju kota Yogyakarta, dimana aku menempuh pendidikan (untuk berusaha betah tak pulang ke kota kelahiran hingga berhasil mendapatkan toga). Menurut perhitunganmu, tiket pesawat Malaysia - Yogyakarta jauh lebih murah daripada rute Tanjungpinang - Jakarta  - Yogyakarta. Lagi pula, kita sama-sama tahu bahwa perjalanan Tanjungpinang - Malaysia hanya menempuh waktu 3 jam saja.

Minggu, 18 januari 2015
Sejak pagi kamu sudah sibuk berkemas: merapikan pakaian, menyatukan titipan-titipan ibuku ke dalam kardus lalu mengikatnya dengan tali, mengecek kembali satu persatu daftar barang, mana tahu mungkin ada tertinggal. Menjelang pukul 3 sore, perjalanan menuju Malaysia dimulai menggunakan kapal ferry dari Tanjungpinang. Kamu baru saja diberitahu oleh kekasih dari temanmu bahwa penerbangan internasional harus memesan bagasi dan kamu tidak tahu sama sekali mengenai hal itu. Aku tahu kamu cemas. Tidak seperti dugaan, penerbangan internasional berbeda dengan penerbangan domestik yang memang mendapatkan 'jatah' bagasi sekitar 15-20 kg per penumpang. Kamu mencoba menghubungi beberapa teman sampai akhirnya ada satu orang yang bisa datang ke pelabuhan mengambil titipan ibu sebanyak 3 kardus dan mengirimkannya melalui kargo. Kamu meminta ijin petugas untuk keluar dari kapal dan menemui porter menjaga 3 kardus itu sampai teman kamu datang dan mengambilnya.

Pukul 19.00 waktu Malaysia..
Kamu tiba di Malaysia dan menunggu jemputan Cik Man, salah satu sanak saudara yang menetap disana. Cik man datang dan mengajak kamu berkeliling ke beberapa tempat lalu mengantarkan kamu beristirahat di Sentimental Hotel. Ada wifi dan sebuah televisi dengan 6 channel yang tersedia di kamar. Malam itu, komunikasi kita terhambat.

Keesokan harinya..
Kamu selalu mengabariku sedari pagi. Aku tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta Pukul 12.30 WIB dan ternyata pesawat dari Malaysia baru akan tiba 13.30 WIB. Dugaan yang tak tepat dari awal perjalanan. Baiklah, kita sama-sama learning by doing hihihi. Aku tak sabar menunggumu muncul di depan pintu kedatangan. Aku menunggu paling depan tetapi terlalu banyak sopir taksi yang berbaris menawarkan jasa. Aku mundur beberapa langkah. Sedikit ke sudut bagian kiri. Kamu datang, clingak-clinguk mencariku. Aku tahu, tapi tak mengahampirimu. Aku senang mengetahui kamu mencari keberadaanku. Aku senang bisa melihat wajah antusias itu. Aku senang akhirnya kamu menemukan aku.

Kepada lelaki yang menempuh perjalanan panjang untuk menemuiku..
Sungguh aku terharu.

Aku hanya pernah pulang sekali untuk menebas rindu.
Sedang kamu selalu bersedia memangkas jarak berkali-kali untukku.
Aku sering berulah mengungkit masa lalu.
Sedang kamu terus mencoba mengingatkan cinta tak bekerja seperti itu.

Aku memendam setiap duka.
Sedang kamu berusaha mengungkapkan segalanya.
Aku begitu keras kepala.
Kamu mendengarkan lalu mengalah.
Aku bilang menyerah.
Kamu tak kenal kata lelah.
Aku berhenti percaya.
Kamu berkata tak apa dan membuktikan aku salah.

Terimakasih sudah berjuang sejauh ini, ya. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa bahagia memiliki kamu yang hebat menjaga kita, selain mengatakan aku sayang kamu, selalu sayang kamu. Jaga diri baik-baik disana. Ingat dua janji nya ya. Aku juga akan menjaga diriku dengan baik disini. Aku tunggu kedatangan selanjutnya. Jadi, mau menggunakan pesawat internasional lagi? :p

I love you, dear. I love our relationship, it is so special on its own way.

0 komentar:

Poskan Komentar