Rabu, 04 Februari 2015

For the First Time in Forever

Untuk Reiny Eka Putri

Halooo, Reiny!
Aaaaaa kangen sekali. Sudah hampir 9 tahun tidak bertemu. Tentu sudah banyak perubahan yang terlihat pada masing-masing kita. Apa aku bisa mengenali kamu hanya dari melihatmu saja? Ku rasa berteman di media sosial cukup membantuku untuk tidak begitu 'pangling' jika suatu hari bertemu denganmu.

Bagaimana Tanjung Batu? Ah iya kamu kan sedang menempuh pendidikan di Bandung ya? Jadi banyak menghabiskan waktu disana. Bagaimana kuliahmu? Masih aktif mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan kecerdasan emosi dan spritual yang pernah kita ikuti? Waktu itu, kita SMP kelas 1 kan? Pengalaman yang tidak bisa aku lupakan sepanjang hidupku. Jadi ingin bercerita panjang lebar. Bersedia membaca dan membantuku mengingat sebagian cerita yang terlewati, kan?

Hari apa aku lupa, aku diantar Ibu menuju ke Hotel Sampoerna Jaya. Kata Ibu, acaranya selama 2 hari, sejak pagi sekitar jam 8 sampai ba'da ashar. Hampir memasuki hotel, tempat parkir sudah dipenuhi dengan anak-anak seusiaku. Aku bersama Ibu memasuki lobi hotel. Aku melihat ke sekeliling ruangan, memperhatikan wajah satu anak ke anak lain yang bersama orang-orang tua disisi mereka. Aku merasa asing, tak ada yang ku kenal satupun. Sehingga aku melakukan hal yang paling aman: diam.

Hingga mulailah acara yang katanya bertujuan untuk bersenang-senang (diikuti ayunan tangan ketika mengatakannya, kamu ingat?), aku tetap tak menemukan teman. Untuk mencairkan ke-kaku-an di dalam acara itu, diadakan sebuah permainan. Permainannya adalah menuliskan nama teman di dalam ruangan sebanyak-banyaknya dan pengalaman lucu yang dialami. OMG! Mati kutu rasanya. Ku rasa, akulah yang paling sedikit menuliskan nama.

Awalnya kita begitu gembira. Rasanya ingin berlama-lama saja di ruangan ber-AC ini. Tak ada kerjaan lain selain menonton tayangan LCD, bertepuk tangan dan tertawa. Kemudian di pergantian acara sesekali kita 'diajak' menangis lalu menari, tertawa, 'bersenang-senang' kemudian menangis lagi. Ketika Sesi 'menangis' dan kita dibimbing untuk mencari 1 teman untuk berpelukan, kamu menarik lenganku. Aku sudah tak peduli dengan rasa malu. Airmata tumpah ruah. Kita menangis hingga sesegukan dan tetap berpelukan. Aku menepuk-nepuk pundakmu, dan kamu melakukan hal yang sama. Aku mengintip mengamati seluruh sudut ruangan dan semua anak menangis tanpa terkecuali. Aku kembali khusyuk memelukmu dan kembali menangis.

Pemberitahuan jam istirahat, aku melepas pelukan dan melihatmu. Aku ingat, seorang anak perempuan mengulurkan tangan padaku. "Reiny", sapamu.

Aku mengikuti langkahmu menuju ruangan lain untuk menyantap makanan. Baru kali ini aku mengikuti acara seperti ini. Aku bahkan tak mengerti cara menuangkan air. Iya, lugu sekali. Aku termasuk anak dari keluarga sederhana, jika saja tempat minuman itu adalah ceret, tentu aku bisa menuangkannya ke gelas dengan mudah. Saat itu, aku menjadi duplikatmu. Aku ikuti caramu menuangkan air ke dalam gelas tanpa memiringkan tempatnya. Hal yang sangat amat sederhana dan aku tak mengetahuinya. -,-

Hari itu pun usai. Kita membawa oleh-oleh pulang ke rumah: mata yang dua-duanya bengkak. Entah berapa kali kita distimulasi untuk menangis. Aku merasa lega hari ini berakhir sekaligus tak sanggup membayangkan kegiatan esok hari.

Hari kedua, aku kembali memilih tempat disampingmu. Kita mengikuti kegiatan seperti hari sebelumnya. Dan hari ini kita menghabiskan airmata tak sebanyak kemarin.

Saat itu pun tiba. Kita selesai membuat kartu anggota dan harus segera berpisah. Aku tahu kamu tidak berasal dari kota ini dan aku juga tahu aku akan kehilangan teman yang meminjamkan pundaknya selama 2 hari berturut-turut. Kita saling menukar nomor handphone. Kamu berjanji akan mengabariku jika kembali ke kota ini. Aku mengharuskan kamu melakukannya. Hari itu, kita resmi berteman. Dan memberikan kabar sesekali melalui pesan.

Reiny, aku begitu antusias menulis surat ini. Kenapa?

Untuk pertama kalinya, kamu-lah teman yang memanggilku fanny, nama yang aku sukai ketika duduk di bangku SMP. Aku telah memberitahukanmu nama lengkapku, dan kamu tetap memanggilku Fanny. Dan aku juga belum lama tahu bahwa teman-temanmu memanggilmu Putri. Aku sudah terlalu nyaman dengan nama Reiny. Tak ada satupun temanku bernama Reiny kecuali kamu.

Terimakasih, untuk pundaknya Reiny! Meskipun jarak memisahkan kita sampai saat ini, aku tetap mengingatmu dengan harapan dapat bertemu lagi.

Salam peluk dari jauh,
Fanny.

0 komentar:

Poskan Komentar