Rabu, 11 Februari 2015

I Stand By You

Kepada saudara perempuanku, sahabat-sahabatku.

(Aku menulis urutan sahabat bukan karena ia yang paling dekat denganku atau ia yang paling tidak bermasalah denganku. Sejujurnya, kalian para sahabat adalah seseorang yang saya miliki secara istimewa dan spesial dengan kisah masing-masing. Sekarang, saya akan mulai dari sahabat pertama yaa..)

1. Untukmu, Wieddya.

See? Aku masih inget namamu dengan tepat, kan? (Pssst aku juga masih inget kepanjangannya hehehe) Kenapa aku menulis surat ini untukmu? Tak lain adalah karena aku ingin mendedikasikan satu halaman untuk mengenang cerita masa kecil kita yang menurutku sebuah kalimat 'I stand by you' ini lebih cocok ketika kamu yang mengatakannya padaku.

Aku dan kamu adalah teman sepermainan (bukan, bukan lagu RATU) ketika di Sekolah Dasar. Sepulang sekolah, -bisa dikatakan- aku sering mengunjungi rumahmu. Karena kamu anak tunggal, biasanya kamu hanya sendirian di rumah karena kedua orangtuamu bekerja. Kadang kamu dijemput ayahmu menggunakan vespa atau mobil lalu aku menumpang. Atau kita memilih untuk berjalan kaki bersama. Sungguh, aku merindukan masa-masa itu. Aku tidak dianggap anak lain yang suka mengganggu waktu istirahatmu. Justru dianggap seperti anak sendiri karena dibebaskan kesana kemari, mengeliling rumah atau mencoba kamar mandi ntah untuk buang air kecil atau sekedar cuci muka (kebiasaan yang sulit ditiadakan ketika berkunjung ke rumah baru). Aku ingat kamu memiliki ayunan di bagian kanan teras. Aku yakin kamu sepakat  bahwa kita senang sekali bermain di teras dan di kamar. Aku paling suka bermain barbie yang rambutnya bisa berubah warna. Hayooo, kamu ingat? Iyaa barbie cantik itu memikiki rambut pirang, dan ketika didiamkan selama beberama menit di freezer akan mengubah warna rambutnya menjadi pink! Ahh, aku jadi ingin punya!

Aku dikenal anak yang 'tomboy' oleh teman-temanku ketika SD. Si 'kepala puak' ungkapan yang diberikan mereka padaku. Tetapi, kamu tidak memandangku begitu. Kamu -yang waktu itu adalah anak yang baru beranjak remaja- dengan tanpa penolakan memberikan aku ruang untuk meminjam barang-barang kesayanganmu, menempatkan aku sebagai teman dekatmu, membiarkan aku disayang juga oleh kedua orang tuamu. Sedangkan aku adalah anak yang begitu egois saat itu. Dengan julukan 'tomboy' dan 'kepala puak' yang melekat, aku memilih untuk bersikap semena-mena dan sok berkuasa. Aku dengan mudah mengajak teman-teman menjauhi satu teman hanya untuk membuktikan aku bisa melakukan apa saja sesuka hatiku. Aku malu, khususnya padamu.

Aku adalah anak dari keluarga sederhana. Tidak seharusnya aku melakukan itu, kan? Kamu adalah anak dari keluarga yang lebih dari cukup dan tak ku temukan keegoisan ketika bermain bersamaku.

Hari ini aku ingin mengakui, kamu termasuk salah satu orang yang menginspirasiku. Sudah lama sekali kita tidak berhubungan dikarenakan beda sekolah dan kesibukan masing-masing. Tetapi, jika kamu sedang sedih dan membutuhkan teman, aku bersedia ada. Jika kamu tak membutuhkan nasehat apapun, aku bersedia diam dan tidak kemana-mana.

PS: berjanjilah untuk menghubungiku segera dan bertukar cerita.

2. Untukmu, Setyo Prameswari.

Halo, setyo! Aku diberitahu kakakmu kalau kamu sedang sibuk tugas lapangan di salah satu rumah sakit. Semangaaaaattt yaa!

Setyo prameswari. Nama yang unik; seperti namaku. Tidak heran jika Setyo maupun aku sering dikira laki-laki. Iya, laki-laki. Aku senang memanggilmu Setyo daripada Ai (nama rumah). Kenapa? Karena aku mengenalmu dengan nama Setyo bukan ai hehehe.

Kamu adalah temanku saat SMP, teman dekatku. Sebagai teman, kamu adalah yang pertama kali memberikan aku hadiah ulang tahun. Aku paling suka hadiah dompet pink bergambar mickey mouse yang kamu bungkus dengan rapi. Aku senang sekali ada yang mengingat ulang tahunku dan memberikanku hadiah. Aku tidak menyangka kalau kamu akan memberikan hadiah di hari ulang tahunku. Untuk itu, aku berterimakasih.

Semasa SMP, aku sangat merepotkanmu ya? Aku pernah memintamu untuk menggambar Uchiha Sasuke. Ya, karena aku tahu kamu suka menggambar dan menjadikan itu sebagai hobimu. Ketika aku ingin mengambil gambar Sasuke itu, aku terkejut! Kamu membuatkan aku banyak gambar Sasuke. Banyak sekali. Kamu mengatakan dengan jujur bahwa kamu meminta bantuan kakakmu untuk menyelesaikan gambar itu. Aku terharu.

Setyo, terimakasih. Terlalu banyak kebaikan yang kamu berikan untuk aku. Kamu terlalu baik sampai sungkan untuk berkata tidak kepada siapapun. Aku tahu, kamu mencoba untuk membuat semua orang senang dan memperoleh keinginan mereka. Tetapi, aku ingin memberitahumu sekali lagi, berhentilah begitu. Jangan biarkan mereka -yang tak punya hati- menindasmu untuk melakukan ini itu. Kuatlah, Setyo. Kuatlah untuk menolak. Kuatlah untuk mengatakan tidak.

Setyo, aku tahu kamu juga sedang berjuang. Berjuang untuk terlihat baik-baik saja. Hari ini, di depanku, jangan sungkan mengatakan kamu sedang tidak kuat menahan semuanya. Jangan menolak tawaranku untuk menjadi tempat sandaran bagimu. Jangan lagi, tidak kali ini. Kamu pun sudah tahu banyak cerita yang terjadi di dalam hidupku, maka mari kita bersama-sama terbuka dan membiarkan segera resah hilang sejenak. Karena kamu juga berhak bahagia dan mendapatkan keinginanmu.

PS: kalau sudah selesai PPL, Kabari ya. Nanti kita jalan lagi. :)

3. Untukmu, Sari Januarti.

Hai, bebe! Kaget ya dapet surat cinta dari aku? Hahahaha jangan mesem-mesem gitu deh nanti jadi kebaca mesum *pfffttt Bebe, gimana Batam? Cieee yang udah dapat kerjaan baru, selamat ya! Btw, kita udah lama loh ga ketemuan eh maksudnya telponan. Kalau ketemuan sih emang udah lama ya gak ketemul karena aku gak pulang-pulang *nangis sesegukan*

Hmmm, kalau cerita yang paling diinget ketika sama bebe itu, banyak. Dan yang berkesan cuma satu. Aku bikin bebe nangis, hehehehe. MAAF YA, KITA KAN GENK. Aduhlah ini surat cinta apa surat ancaman. Khilaf, waktu itu sebel-sebel gimana gitu kan kita? Abisan kamu sih bertingkah. Pilih dia atau dia? Eh malah pilih semua. Jelas dong sebagai teman paling dekat aku geram dan akhirnya terjadilah peperangan diantara kita *jreeeeng* *biar dramatis* Gapapa ya kebongkar dikit, kan bukan aib. Toh cuma kita-kita aja yang tau siapa si 'dia' dan 'dia'.

Cerita singkat itu masih sangat sedikit untuk dijadikan buku cerita kita. Kita tidak terpisahkan selama 3 tahun sekolah. Sekelas tetapi tidak duduk sebelahan, tak membuat persahabatan kita kacau balau. Ya kan? Aku juga beberapa kali berkunjungvke rumahmu. Dan kamu sepertinya hanya sekali dua kali ke rumahku. Sungguh tidak sebanding, hahahaha.

Bebe, ditunggu kedatangannya ke Jogja ya. Baik-baiklah di Batam. Kalau sedih-sedih lagi kayak kemarin, langsung bbm aja kaya biasa yess. Nanti kita voice note-an lagi. Telponannya kapan-kapan kalau bebe udah punya kartu yang sama dengan aku yaaa.

Bebe, aku simpan rahasia-rahasia kecil kita sebaik-baiknya hanya untuk kita berdua. Terimakasih sudah mempercayakan aku untuk setiap cerita ya. Jangan ragu untuk cerita lagi. Aku akan jadi kakak yang baik untukmu. Ini beneran. Bebe itu udah hebat banget menghadapi semuanya dengan tegar, tidak seperti anak bungsu lainnya yang manja dan suka ngeluh. Bebe udah jauh berbeda dari yang aku kenal dulu. Bebe lebih baik, semakin baik.

PS: Kirimin oleh-oleh dong dari Batam. Tas, misalnya. Thank you. :*

4. Untukmu, Fiqih Fitrianti.

Pikaaaiiii! Gak bisa nih bikin surat pake kata baku elu. Udah biasa bertukar cerita jebar-jeber-jebor. Jadi, kaya biasa aja yaaa, biar enak juga bacanya seolah-olah bertatap muka gitu.

Pikai, kalau biasanya orang nulis surat nannyain kabar. Kita harus mengubah cara pandang itu. Gue mau nanyain ke elu, gimana dinas malamnya? Gimana sinyal di tempat baru? Gimana dietnya? Gimana jogingnya? Hahahahaha Keceplosan pikai, ampuunnnn!

Berteman sama pikai sejak SMK dan duduk sebelahan. Gak nyangka juga bakalan betah sampai 3 tahun, hahahaha. Cerita sama pikai lebih dari banyak, karena ikut kegiatan sekolah bareng, naik angkot pulang sekolah bareng, kemana-mana itu bareng. Oiya ke wc pun bareng. Eh, bolos ke UKS juga bareng. Heran deh, suka amat ngikutin gue pikai, lu pasti nangisnya ga berhenti ya pas pisah dari gue? Ngaku deh hahaha

Pikai sekarang udah hebat banget, bisa beli motor dan kulkas dengan uang sendiri meskipun harus bersabar untuk bisa kuliah. Pikai itu anaknya rajin dan suka banget bantu. Ringan tangan lah istilahnya. Makanya ga heran kalau temennya dimana-mana.  Tapi pikai juga manusia yang punya rasa dan punya hati (kayak lagu). Pikai suka banget patah hati. Suka banget ditikung. Suka banget disakitin. Kagum juga. Kira-kira hatinya terbuat dari apa ya? Udah ngerasain jungkir balik cinta tapi masih bisa mempercayakan hatinya ke orang lain yang ia sayang.

Pikai, terimakasih yaa. Dari elu, gue belajar untuk tidak malu bersosialisasi, untuk terbuka dan percaya kepada orang-orang di sekitar. Gue yakin elu lebih banyak ngalamin asam garam kehidupan. Gue mungkin ga tau banyak semua cerita elu. Tetapi berteman sama elu, bikin gue ngerasa punya saudara. Gue jadi inget waktu kita berantem sampai diem-dieman. Gue minta maaf ya pikai. Gue semena-mena, egois dan keras kepala banget anaknya. Tetapi, elu berhasil ngubah cara oandang gue untuk tidak sering diem sendiri. Elu ngebentuk gue untuk 'sadar' lingkungan.

Pikai, elu cerita aja ke gue ya kalau lu lagi ada masalah, kalau lu lagi sedih. Maaf gue kadang ga ngerti sama yang elu rasain karena gue ga pernah ngerasain itu. Tapi gue yakin, elu ga bakalan betah untuk ga cerita ke gue *sotoy* *digetok*

Yang mau gue bilang, gue ga berubah meskipun gue jauh dari elu. Gue tetep temen cerita elu pikai. :)

PS: Buruan kuliah biar ngerasain sibuknya gue sampai ga bisa balas bbm elu.

5. Untukmu, Opie Eka Mirani.

Hey ho, kak opie! Cieee dapat surat cinta juga ya akhirnya hahahaha *digencet sampai kurus*

Aku suka memanggil beberapa teman yang seumuran dengan sapaan 'kak', lebih nyaman aja gitu. Dikarenakan mereka juga memanggilku tante, sepertimu.

Sebenarnya kita udah kenal cukup lama ya kak, tapi kita mendekatkan diri dengan cerita-cerita seputar cinta dan kehidupan baru-baru ini. Aku senang bisa kenal kak opie. Kak opie itu anaknya pekerja keras. Aku 'iri' dengan -hampir- semua hal yang ada di dalam hidup kak opi. Yang jelas, aku ingin menjadi tangguh seperti kak opi.

Mau bahas soal cinta dulu, kak? Aduh sampai dinosaurus hidup lagi juga ga bakalan selesai ya? Terlalu rumit untuk dikira-kira seperti apa akhirnya. Tetapi aku mengagumimu karena itu. Aku tahu kamu menyayangi seorang pria hingga se-be-gi-tu-nya dan sampai saat ini masih tetap setia menantikan ia kembali. Jujur saja, aku gagal paham. Seperti kata salah satu selebtwit, 'Berjuang tidak sebercanda itu.' Bahkan aku sendiri tidak berani menempatkan hatiku terlalu lama pada seseorang yang tidak jelas ingin ditujukan kemana hatinya, meskipun aku menyayanginya dengan sangat. Aku rela terluka dan membiarkannya menjadi masa lalu daripada harus menerima kenyataan bahwa ia menggantungkan cintanya dan seolah-olah membuatku tampak seperti pengemis perhatian. Aku tahu kak opie bukan tipe pengemis perhatian, hanya terlalu banyak orang-orang yang mengomentari seenak jidat. Dan kak opie tidak peduli dengan mereka. Duh.. Aku tak punya hati setangguh itu.

Sejak belum mencapai usia dua puluh tahun, kak opi sudah bisa membiyai pengeluaran sendiri dan membantu pemasukan keluarga. Sekali lagi, kamu tangguh. Aku salut.

Kak opie, terimakasih ya sudah menerima segala macem komentarku tentang semua ceritamu. Terimakasih juga sudah menginspirasiku. Ku ingatkan, jangan segan untuk bercerita tentang apa saja. Selama ini, aku cukup bisa dipercaya kan? Hehehe.

I'll be there for you kak.

PS: Ditunggu oleh-oleh nasi goreng pak haji, otak-otak, gong-gong, dan segala macem kuliner lainnya ketika kamu berkunjung ke Jogja.


Sudah dulu yaa. Aku sayang kalian :*

With Love,
Sahabat kalian semua. :*

0 komentar:

Poskan Komentar