Kamis, 05 Februari 2015

It's about Trust

Kepada seluruh anak dari keluarga broken home.

Aku baru saja menonton talkshow di televisi. Acara itu mendatangkan tamu yang sesuai dengan tema yang sedang mereka angkat yakni broken home. Setelah segmen pertama, diketahui bahwa presenter dan tamu acara tersebut adalah anak dari keluarga broken home. Aku 'khusyu' mendengarkan setiap penjelasan dan tanggapan dari psikolog yang juga hadir di acara itu.

Aku baru sadar, dampak dari keluarga broken home pada anak balita hingga dewasa itu berbeda-beda. Ketika anak usia 10 tahun ke-bawah menyaksikan perselisihan orang tua, mereka merasa sedih karena keluarga -yang mereka tahu- adalah keluarga utuh yang ada Ayah, Ibu dan Anak. Kebutuhan mereka pada saat itu adalah dekat pada orang tua karena ketakutan akan ketidak-utuhan keluarga. Sedangkan pada anak usia remaja dan dewasa jika mengetahui mereka adalah anak keluarga broken home, mereka lebih banyak mencoba untuk memahami keadaan meskipun dampaknya akan lebih tertutup kepada orang tua. Misalnya, jika ingin menanyakan sesuatu tentang perkembangan fisik ataupun sekolah, mereka akan lebih baik menahannya dan menceritakan ke diary atau teman.

Aku adalah anak dari keluarga broken home. Aku tidak bangga pada hal itu, tidak sama sekali. Apa yang pantas dibanggakan? Tentu tak ada. Lalu kenapa aku mengatakannya dengan begitu mudah kepada teman-temanku? Bahkan pada orang yang baru aku kenal? Karena aku sudah melalui saat-saat tersulit, dan aku cukup tertutup saat itu. Aku berusaha mem-block semua pertolongan yang diberikan lingkungan padaku. Aku kesepian karena merasa hanya aku-lah satu-satunya anak yang 'terbuang'.

Hari ini aku sadar, banyak anak-anak broken home di luar sana yang masih 'trauma' karena tak memiliki keluarga utuh, karena menyaksikan sendiri pertengkaran kedua orang tua mereka, karena tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan pertengkaran itu, dan karena merasa tidak cukup berharga untuk menjadi salah satu alasan orang tua untuk tetap bersama. Aku tahu bagaimana rasanya.

Sekarang, mari bersama-sama mengambil hikmah atas apa yang terjadi pada kita: padamu dan padaku yang menjadi bagian dari keluarga broken home. Tentu di masa depan kita memimpikan keluarga yang utuh dan bahagia, maka berjuanglah untuk mewujudkan itu. Kita sudah tahu bagaimana sedih, sakit, dan terluka-nya kita waktu itu dan kita tidak ingin anak-anak kita mengalaminya. Cobalah terbuka dan membentuk komunikasi yang baik pada siapapun, karena inilah saatnya kita berlatih untuk dapat berkomunikasi dengan anak. Orang tua cenderung menutup diri untuk setiap hal yang dialami, kita harus bisa mengubah cara pandang itu. Biarkan anak tahu dan menjadi bagian di dalamnya.

Untukmu, anak dari keluarga broken home. Kamu tidak sendirian. Jangan terlalu lama bersedih, ikhlaskanlah. Meskipun kita kesulitan untuk percaya pada orang lain dikarenakan 'trauma' yang kita alami, kita harus mencoba untuk menghadapi itu. Setidaknya sebagai permulaan, kamu bisa percaya pada anak yang juga merasakan 'trauma' yang sama, padaku misalnya.

PS: Jangan sungkan untuk menghubungiku dan bercerita banyak hal pun perihal trauma itu.

1 komentar:

Opi Eka Mirani mengatakan...

Iya, bahkan untuk anak semi broken home.. terimakasih untuk selalu ada :)

Poskan Komentar