Minggu, 01 Februari 2015

Janji pada Ibu

Selamat pagi, bu.
Maaf aku kesiangan dan tak melakukan apa-apa untuk membantumu memasak dan membersihkan peralatan dapur. Pun tak juga berinisiatif untuk sekedar mengambil sapu lidi lalu membereskan tempat tidur. Anak gadis seperti apa aku yang sudah kepala dua masih saja berpangku tangan atas tugas yang sangat wajar bagi perempuan seusiaku?

Aku menarik nafas panjang, malu pada diriku sendiri.

Aku mencari ibu, beranjak dari kamar menuju dapur. Di atas kompor, ada panci berisi sup ayam. Ku sentuh gagangnya, masih panas. Aku melihat sekeliling dan tak ku temukan piring, sendok, pisau, mangkuk yang kotor. Ibu sudah selesai, gumamku.

Aku menunggu di kamar, berharap ibu segera datang.

Tak berapa lama kemudian, aku mendengar langkah kaki. Ibu membuka pintu kamar. Aku lega. Ibu melihatku sekilas lalu menutup pintu. Ibu menggunakan jaket angkatan milikku. Wajahnya pucat, menggigil. Aku bertanya-tanya dalam hati. Ibu duduk lalu merebahkan badan. Aku mencari kaus kaki lalu mengenakannya pada kedua kaki ibu yang seluruh ujung jarinya dingin. Aku mengambil selimut tebal, dan membungkus tubuh ibu dengan tanggap. Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku tak tahu Ibu sedang tak sehat. Aku memegang kening Ibu, hangat. Aku bergegas mencari paracetamol di dalam kotak obat, tak ku temukan. Ibu memperhatikan aku. Ibu meraih tangan kananku kemudian diletakkan di atas dahinya. Aku diam, menuruti bimbingan tangan ibu.

Tak sedikitpun aku memalingkan pandanganku dari wajah Ibu. Aku merasa belum pernah berbakti dengan sungguh-sungguh padanya. Hal apa yang ku lakukan sehingga membuat Ibu bangga? Juara kelas? Adakah selain itu? Hal apa yang membuatnya bersyukur telah merawatku dari kecil? Ketidak-alpa-an ku pamit lalu mencium punggung tangannya? Adakah selain itu? Hal apa yang membuatnya tertawa mengingatku? Tingkah konyolku? Adakah selain itu? Tak ku temukan jawaban untuk semua pertanyaan menggelikan yang mengelilingi kepalaku. Aku mengutuki diriku sendiri yang selama ini acuh tak acuh pada Ibu.

Ibu, aku mohon maaf.
Aku berjanji untuk menghilangkan rasa malas dan kembali memompa semangat menuntut ilmu menuju wisudaku.
Aku berjanji untuk bangun lebih pagi dan membantumu menyelesaikan pekerjaan rumah.
Aku berjanji untuk merendahkan suara ketika berbicara agar tak terdengar berisik dan mengganggu.
Aku berjanji untuk lebih banyak bersyukur dan tak menuntut ini itu.
Untuk semua janji, aku tetap memerlukan bimbingan ibu, teguran ibu, pelukan ibu, semua yang ada padamu, ibu.
Tapi hari ini,
Aku akan menepati satu janji: merawatmu sampai kembali pulih, aku janji.
Lekas sembuh, ya bu.
Aku sayang Ibu.

2 komentar:

Opi Eka Mirani mengatakan...

Aku sayang ibu juga. Lekas sembuh ya ibu :')

Fikri Maulana mengatakan...

Jarang-jarang nemu surat puitis gini, hebat kak :)

Poskan Komentar