Senin, 02 November 2015

Kesedihan

Aku tak tahu ingin menulis apa. Sejujurnya, aku ingin menulis semua perasaanku saat ini. Tetapi rasanya sudah habis setelah menangis.

Singkatnya, aku baru saja mampir ke catatan digital seseorang. Sudah lama memang aku tidak melihat tulisan-tulisannya, karena menurutku ia tak begitu suka menulis.

Aku terkejut melihat halaman depan yang berisi beberapa judul. Satu bulan belakangan ia menulis kesedihan. Kehampaan. Kekosongan. Kerinduan.

Aku baca baik-baik kata dalam setiap kalimat. Aku ulangi lagi sampai aku memahami perasaan yang tertuang di dalamnya.

Aku hancur.
Ternyata aku belum memahaminya.
Ternyata aku tidak cukup peka untuk mengetahui perasaannya.
Ternyata aku hanya memikirkan bagaimana ia harus memperlakukan aku.
Ternyata ia sering rindu, dan aku tak pernah tahu.

Untukmu..
Kamu tahu aku suka puisi, tetapi aku tak mahir membuatnya. Saat-saat sebelum dan beberapa lama setelah pertemuan di dipan & teh di beranda malam itu, kamu tahu aku tidak memiliki kegiatan apapun. Aku mengisi hampir setiap hari untuk membaca puisi, novel, dan lainnya. Aku jadi punya banyak ide untuk menulis. Dan jika bukan karena kehadiranmu yang meyakinkan dan memperjuangkan aku, puisi-puisi itu tidak akan pernah ada. Aku, yang masih 18 tahun merasakan cinta yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kurasa ini yang membangkitkan aku untuk semangat menulis tentangmu. Menulis puisi lagi, lagi, lagi. Sampai pada suatu titik dimana aku harus menyerah bahwa aku tidak benar-benar cinta padamu. Oh, maksudku aku yang benar-benar cinta padamu, sedang kamu tidak. Aku? Hancur. Aku tak lagi bisa memikirkan sebuah puisi indah tentang kamu atau masa depan yang pernah aku utarakan. Aku merasa bodoh dan hanya buang-buang waktu untuk sekedar menyatakan cinta dari puisi-puisi sederhana. Aku percaya bahwa puisimu untukku hanya rima manis, bukan rasa yang sebenarnya ada. Lalu, untuk apa aku menulis puisi jika hanya untuk dimainkan saja? Tetapi aku terus mencoba untuk membuat puisi lagi. Puisi indah untukmu yang ku cinta. Aku buat beberapa baris. Aku baca, rasanya tak manis. Sejak hari itu, aku tahu aku pernah hampir kehilanganmu dan telah kehilangan magis pada puisiku. Aku tak mampu lagi menulis sesuatu yang romantis. Aku tak mampu mengeja kita sebaik dulu. Aku mencintaimu tetapi aku tidak yakin akan mampu sebesar waktu itu.

Untukmu,
Kamu selalu meminta aku untuk memberitahumu jika aku tidak bisa terlelap malam hari. Apakah itu hanya berlaku untukku? Beginikah cara kita berkomunikasi satu sama lain? Jika ya, aku pun bersedia.

Kamu mungkin tidak pernah tahu sebesar apa aku menyayangi kamu. Seberapa sering aku menangis karena kamu. Kamu harusnya tahu, aku tidak akan menangis untuk orang yang tidak aku pedulikan.

Aku (pernah) hancur, tapi tak pernah benar-benar ingin meninggalkanmu.

Aku sayang kamu. Meski tanpa puisi. Meski dengan cara seperti ini.

-----
Your quenbee.

0 komentar:

Poskan Komentar