Sabtu, 31 Januari 2015

Ayah, aku ingin restu.

25 Januari 2015

Aku, Ibu, Adik bungsu dan seorang pria yang menjadi kekasihku baru saja tiba dari perjalanan yang menghabiskan waktu satu jam. Teman Ibu berulang tahun dan Ibu ingin memberikan 'early surprise' kepadanya.

Sesampainya di rumah teman Ibu, kami disambut dengan hangat. Suami teman Ibu adalah peternak burung. Beliau mengajak kami melihat-lihat puluhan piarannya. Ia begitu antusias menjabarkan setiap pertanyaannku dan tanggapan kekasihku. Dari pengamatanku, ia senang mengetahui ada yang tertarik terhadap hobinya, pekerjaannya, bagian dari kehidupannya.

Pukul 23.00 WIB
Aku tidak sanggup lagi menemani Ibu dan kekasihku karena mengantuk. Aku memilih mendengarkan obrolan mereka sembari berbaring. Aku tidak menghadap Ibu, tidak pula menghadap kekasihku. Sehingga mereka berdua tidak tahu aku belum mengistirahatkan mataku.

Hampir tengah malam, aku merasa nyaman mendengar pembicaraan Ibu dan kekasihku yang berbalas lancar dan diselingi tawa khas Ibu. Aku tersenyum. Tak ada harapan selain menghentikan waktu. Aku ingin mengabadikan setiap detik yang mendamaikan perasaanku saat ini.  Hingga di suatu waktu, jantungku berdebar tak menentu mendengar kata-kata dari kekasihku. Ia menyatakan keinginannya untuk menikahiku segera. Ia menginginkan doa ibu untuk memperlancar setiap usaha yang sedang ia lakukan. Ia perinci satu persatu mimpi-mimpi yang ingin diwujudkannya bersamaku. Ia perjelas bahwa kebahagiaan ingin diraih bersama keluarganya dan keluargaku. Ia katakan dengan mantap target yang telah kami sepakati: tahun pernikahan.

Aku menahan suara dan membiarkan airmata mengalir deras. Aku was-was menunggu jawaban Ibu. Aku cerna setiap kalimat yang Ibu sampaikan, tak ada penolakan. Aku tahu Ibu menangis. Begitupun kekasihku.

Malam yang haru.

Di saat seperti ini,
Aku justru mengingat masa laluku.
Aku ingin menceritakan ceritaku hari ini namun sangat sulit membuat janji temu dengannya.
Aku ingin bertatap muka namun tak bisa.
Aku ingin ia tahu,
Ada seorang pria yang aku ingin ia temui.
Ada seorang pria yang telah menghadap Ibu dan menyatakan tujuannya.
Ada seorang pria yang akan menggantikan posisinya untuk menjaga dan melindungiku.
Ada seorang pria yang  menginginkan aku menjadi pasangan hidupnya.

Tapi, bagaimana?
Bagaimana aku bahagia sepenuhnya jika ia telah tiada?

Ayah, pulanglah. Aku ingin restu.

Jumat, 30 Januari 2015

Hari H.

Tiga bulan lalu kamu meminta bantuan kekasih dari temanmu untuk membantu memesan tiket pesawat dari Malaysia menuju kota Yogyakarta, dimana aku menempuh pendidikan (untuk berusaha betah tak pulang ke kota kelahiran hingga berhasil mendapatkan toga). Menurut perhitunganmu, tiket pesawat Malaysia - Yogyakarta jauh lebih murah daripada rute Tanjungpinang - Jakarta  - Yogyakarta. Lagi pula, kita sama-sama tahu bahwa perjalanan Tanjungpinang - Malaysia hanya menempuh waktu 3 jam saja.

Minggu, 18 januari 2015
Sejak pagi kamu sudah sibuk berkemas: merapikan pakaian, menyatukan titipan-titipan ibuku ke dalam kardus lalu mengikatnya dengan tali, mengecek kembali satu persatu daftar barang, mana tahu mungkin ada tertinggal. Menjelang pukul 3 sore, perjalanan menuju Malaysia dimulai menggunakan kapal ferry dari Tanjungpinang. Kamu baru saja diberitahu oleh kekasih dari temanmu bahwa penerbangan internasional harus memesan bagasi dan kamu tidak tahu sama sekali mengenai hal itu. Aku tahu kamu cemas. Tidak seperti dugaan, penerbangan internasional berbeda dengan penerbangan domestik yang memang mendapatkan 'jatah' bagasi sekitar 15-20 kg per penumpang. Kamu mencoba menghubungi beberapa teman sampai akhirnya ada satu orang yang bisa datang ke pelabuhan mengambil titipan ibu sebanyak 3 kardus dan mengirimkannya melalui kargo. Kamu meminta ijin petugas untuk keluar dari kapal dan menemui porter menjaga 3 kardus itu sampai teman kamu datang dan mengambilnya.

Pukul 19.00 waktu Malaysia..
Kamu tiba di Malaysia dan menunggu jemputan Cik Man, salah satu sanak saudara yang menetap disana. Cik man datang dan mengajak kamu berkeliling ke beberapa tempat lalu mengantarkan kamu beristirahat di Sentimental Hotel. Ada wifi dan sebuah televisi dengan 6 channel yang tersedia di kamar. Malam itu, komunikasi kita terhambat.

Keesokan harinya..
Kamu selalu mengabariku sedari pagi. Aku tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta Pukul 12.30 WIB dan ternyata pesawat dari Malaysia baru akan tiba 13.30 WIB. Dugaan yang tak tepat dari awal perjalanan. Baiklah, kita sama-sama learning by doing hihihi. Aku tak sabar menunggumu muncul di depan pintu kedatangan. Aku menunggu paling depan tetapi terlalu banyak sopir taksi yang berbaris menawarkan jasa. Aku mundur beberapa langkah. Sedikit ke sudut bagian kiri. Kamu datang, clingak-clinguk mencariku. Aku tahu, tapi tak mengahampirimu. Aku senang mengetahui kamu mencari keberadaanku. Aku senang bisa melihat wajah antusias itu. Aku senang akhirnya kamu menemukan aku.

Kepada lelaki yang menempuh perjalanan panjang untuk menemuiku..
Sungguh aku terharu.

Aku hanya pernah pulang sekali untuk menebas rindu.
Sedang kamu selalu bersedia memangkas jarak berkali-kali untukku.
Aku sering berulah mengungkit masa lalu.
Sedang kamu terus mencoba mengingatkan cinta tak bekerja seperti itu.

Aku memendam setiap duka.
Sedang kamu berusaha mengungkapkan segalanya.
Aku begitu keras kepala.
Kamu mendengarkan lalu mengalah.
Aku bilang menyerah.
Kamu tak kenal kata lelah.
Aku berhenti percaya.
Kamu berkata tak apa dan membuktikan aku salah.

Terimakasih sudah berjuang sejauh ini, ya. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa bahagia memiliki kamu yang hebat menjaga kita, selain mengatakan aku sayang kamu, selalu sayang kamu. Jaga diri baik-baik disana. Ingat dua janji nya ya. Aku juga akan menjaga diriku dengan baik disini. Aku tunggu kedatangan selanjutnya. Jadi, mau menggunakan pesawat internasional lagi? :p

I love you, dear. I love our relationship, it is so special on its own way.

Hari H.

Tiga bulan lalu kamu meminta bantuan kekasih dari temanmu untuk membantu memesan tiket pesawat dari Malaysia menuju kota Yogyakarta, dimana aku menempuh pendidikan (untuk berusaha betah tak pulang ke kota kelahiran hingga berhasil mendapatkan toga). Menurut perhitunganmu, tiket pesawat Malaysia - Yogyakarta jauh lebih murah daripada rute Tanjungpinang - Jakarta  - Yogyakarta. Lagi pula, kita sama-sama tahu bahwa perjalanan Tanjungpinang - Malaysia hanya menempuh waktu 3 jam saja.

Minggu, 18 januari 2015
Sejak pagi kamu sudah sibuk berkemas: merapikan pakaian, menyatukan titipan-titipan ibuku ke dalam kardus lalu mengikatnya dengan tali, mengecek kembali satu persatu daftar barang, mana tahu mungkin ada tertinggal. Menjelang pukul 3 sore, perjalanan menuju Malaysia dimulai menggunakan kapal ferry dari Tanjungpinang. Kamu baru saja diberitahu oleh kekasih dari temanmu bahwa penerbangan internasional harus memesan bagasi dan kamu tidak tahu sama sekali mengenai hal itu. Aku tahu kamu cemas. Tidak seperti dugaan, penerbangan internasional berbeda dengan penerbangan domestik yang memang mendapatkan 'jatah' bagasi sekitar 15-20 kg per penumpang. Kamu mencoba menghubungi beberapa teman sampai akhirnya ada satu orang yang bisa datang ke pelabuhan mengambil titipan ibu sebanyak 3 kardus dan mengirimkannya melalui kargo. Kamu meminta ijin petugas untuk keluar dari kapal dan menemui porter menjaga 3 kardus itu sampai teman kamu datang dan mengambilnya.

Pukul 19.00 waktu Malaysia..
Kamu tiba di Malaysia dan menunggu jemputan Cik Man, salah satu sanak saudara yang menetap disana. Cik man datang dan mengajak kamu berkeliling ke beberapa tempat lalu mengantarkan kamu beristirahat di Sentimental Hotel. Ada wifi dan sebuah televisi dengan 6 channel yang tersedia di kamar. Malam itu, komunikasi kita terhambat.

Keesokan harinya..
Kamu selalu mengabariku sedari pagi. Aku tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta Pukul 12.30 WIB dan ternyata pesawat dari Malaysia baru akan tiba 13.30 WIB. Dugaan yang tak tepat dari awal perjalanan. Baiklah, kita sama-sama learning by doing hihihi. Aku tak sabar menunggumu muncul di depan pintu kedatangan. Aku menunggu paling depan tetapi terlalu banyak sopir taksi yang berbaris menawarkan jasa. Aku mundur beberapa langkah. Sedikit ke sudut bagian kiri. Kamu datang, clingak-clinguk mencariku. Aku tahu, tapi tak mengahampirimu. Aku senang mengetahui kamu mencari keberadaanku. Aku senang bisa melihat wajah antusias itu. Aku senang akhirnya kamu menemukan aku.

Kepada lelaki yang menempuh perjalanan panjang untuk menemuiku..
Sungguh aku terharu.

Aku hanya pernah pulang sekali untuk menebas rindu.
Sedang kamu selalu bersedia memangkas jarak berkali-kali untukku.
Aku sering berulah mengungkit masa lalu.
Sedang kamu terus mencoba mengingatkan cinta tak bekerja seperti itu.

Aku memendam setiap duka.
Sedang kamu berusaha mengungkapkan segalanya.
Aku begitu keras kepala.
Kamu mendengarkan lalu mengalah.
Aku bilang menyerah.
Kamu tak kenal kata lelah.
Aku berhenti percaya.
Kamu berkata tak apa dan membuktikan aku salah.

Terimakasih sudah berjuang sejauh ini, ya. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa bahagia memiliki kamu yang hebat menjaga kita, selain mengatakan aku sayang kamu, selalu sayang kamu. Jaga diri baik-baik disana. Ingat dua janji nya ya. Aku juga akan menjaga diriku dengan baik disini. Aku tunggu kedatangan selanjutnya. Jadi, mau menggunakan pesawat internasional lagi? :p

I love you, dear. I love our relationship, it is so special on its own way.

Rabu, 28 Januari 2015

#30HariMenulisSuratCinta 2015!

Minggu, 11 Januari 2015

Selamat, sayang!

'Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat hari ulang tahun, selamat ulang tahun' :)

Selamat hari ulang tahun yang ke 24, sayang. :)

Sehat selalu,
Panjang umur,
Murah rezeki,
Semakin rendah hati,
Semakin giat menabung,
Semakin sayang keluarga,
Semakin dewasa dan bahagia semoga selalu melingkupimu.

Hari ini, aku berdoa dengan penuh pengharapan.

Semoga kebersamaan kita tak kenal rintangan pun halangan. Beberapa tahun belakangan, aku melatih kesabaran untuk tidak menuntut berjumpa denganmu. Namun hari yang tanpamu, aku tetap tidak suka.

Maka, segerakanlah apa yang memang perlu disegerakan. :)

Selamat sayang, semakin dekat usahamu menuju setiap doa-doa yang sedang diijabah Tuhan. Semoga Ia senantiasa menjaga dan melindungi, menggenapkan aku sebagai yang pantas mendampingi.

Selamat juga jari kelingkingnya sudah bebas! I love you, dear :)