Rabu, 11 Februari 2015

I Stand By You

Kepada saudara perempuanku, sahabat-sahabatku.

(Aku menulis urutan sahabat bukan karena ia yang paling dekat denganku atau ia yang paling tidak bermasalah denganku. Sejujurnya, kalian para sahabat adalah seseorang yang saya miliki secara istimewa dan spesial dengan kisah masing-masing. Sekarang, saya akan mulai dari sahabat pertama yaa..)

1. Untukmu, Wieddya.

See? Aku masih inget namamu dengan tepat, kan? (Pssst aku juga masih inget kepanjangannya hehehe) Kenapa aku menulis surat ini untukmu? Tak lain adalah karena aku ingin mendedikasikan satu halaman untuk mengenang cerita masa kecil kita yang menurutku sebuah kalimat 'I stand by you' ini lebih cocok ketika kamu yang mengatakannya padaku.

Aku dan kamu adalah teman sepermainan (bukan, bukan lagu RATU) ketika di Sekolah Dasar. Sepulang sekolah, -bisa dikatakan- aku sering mengunjungi rumahmu. Karena kamu anak tunggal, biasanya kamu hanya sendirian di rumah karena kedua orangtuamu bekerja. Kadang kamu dijemput ayahmu menggunakan vespa atau mobil lalu aku menumpang. Atau kita memilih untuk berjalan kaki bersama. Sungguh, aku merindukan masa-masa itu. Aku tidak dianggap anak lain yang suka mengganggu waktu istirahatmu. Justru dianggap seperti anak sendiri karena dibebaskan kesana kemari, mengeliling rumah atau mencoba kamar mandi ntah untuk buang air kecil atau sekedar cuci muka (kebiasaan yang sulit ditiadakan ketika berkunjung ke rumah baru). Aku ingat kamu memiliki ayunan di bagian kanan teras. Aku yakin kamu sepakat  bahwa kita senang sekali bermain di teras dan di kamar. Aku paling suka bermain barbie yang rambutnya bisa berubah warna. Hayooo, kamu ingat? Iyaa barbie cantik itu memikiki rambut pirang, dan ketika didiamkan selama beberama menit di freezer akan mengubah warna rambutnya menjadi pink! Ahh, aku jadi ingin punya!

Aku dikenal anak yang 'tomboy' oleh teman-temanku ketika SD. Si 'kepala puak' ungkapan yang diberikan mereka padaku. Tetapi, kamu tidak memandangku begitu. Kamu -yang waktu itu adalah anak yang baru beranjak remaja- dengan tanpa penolakan memberikan aku ruang untuk meminjam barang-barang kesayanganmu, menempatkan aku sebagai teman dekatmu, membiarkan aku disayang juga oleh kedua orang tuamu. Sedangkan aku adalah anak yang begitu egois saat itu. Dengan julukan 'tomboy' dan 'kepala puak' yang melekat, aku memilih untuk bersikap semena-mena dan sok berkuasa. Aku dengan mudah mengajak teman-teman menjauhi satu teman hanya untuk membuktikan aku bisa melakukan apa saja sesuka hatiku. Aku malu, khususnya padamu.

Aku adalah anak dari keluarga sederhana. Tidak seharusnya aku melakukan itu, kan? Kamu adalah anak dari keluarga yang lebih dari cukup dan tak ku temukan keegoisan ketika bermain bersamaku.

Hari ini aku ingin mengakui, kamu termasuk salah satu orang yang menginspirasiku. Sudah lama sekali kita tidak berhubungan dikarenakan beda sekolah dan kesibukan masing-masing. Tetapi, jika kamu sedang sedih dan membutuhkan teman, aku bersedia ada. Jika kamu tak membutuhkan nasehat apapun, aku bersedia diam dan tidak kemana-mana.

PS: berjanjilah untuk menghubungiku segera dan bertukar cerita.

2. Untukmu, Setyo Prameswari.

Halo, setyo! Aku diberitahu kakakmu kalau kamu sedang sibuk tugas lapangan di salah satu rumah sakit. Semangaaaaattt yaa!

Setyo prameswari. Nama yang unik; seperti namaku. Tidak heran jika Setyo maupun aku sering dikira laki-laki. Iya, laki-laki. Aku senang memanggilmu Setyo daripada Ai (nama rumah). Kenapa? Karena aku mengenalmu dengan nama Setyo bukan ai hehehe.

Kamu adalah temanku saat SMP, teman dekatku. Sebagai teman, kamu adalah yang pertama kali memberikan aku hadiah ulang tahun. Aku paling suka hadiah dompet pink bergambar mickey mouse yang kamu bungkus dengan rapi. Aku senang sekali ada yang mengingat ulang tahunku dan memberikanku hadiah. Aku tidak menyangka kalau kamu akan memberikan hadiah di hari ulang tahunku. Untuk itu, aku berterimakasih.

Semasa SMP, aku sangat merepotkanmu ya? Aku pernah memintamu untuk menggambar Uchiha Sasuke. Ya, karena aku tahu kamu suka menggambar dan menjadikan itu sebagai hobimu. Ketika aku ingin mengambil gambar Sasuke itu, aku terkejut! Kamu membuatkan aku banyak gambar Sasuke. Banyak sekali. Kamu mengatakan dengan jujur bahwa kamu meminta bantuan kakakmu untuk menyelesaikan gambar itu. Aku terharu.

Setyo, terimakasih. Terlalu banyak kebaikan yang kamu berikan untuk aku. Kamu terlalu baik sampai sungkan untuk berkata tidak kepada siapapun. Aku tahu, kamu mencoba untuk membuat semua orang senang dan memperoleh keinginan mereka. Tetapi, aku ingin memberitahumu sekali lagi, berhentilah begitu. Jangan biarkan mereka -yang tak punya hati- menindasmu untuk melakukan ini itu. Kuatlah, Setyo. Kuatlah untuk menolak. Kuatlah untuk mengatakan tidak.

Setyo, aku tahu kamu juga sedang berjuang. Berjuang untuk terlihat baik-baik saja. Hari ini, di depanku, jangan sungkan mengatakan kamu sedang tidak kuat menahan semuanya. Jangan menolak tawaranku untuk menjadi tempat sandaran bagimu. Jangan lagi, tidak kali ini. Kamu pun sudah tahu banyak cerita yang terjadi di dalam hidupku, maka mari kita bersama-sama terbuka dan membiarkan segera resah hilang sejenak. Karena kamu juga berhak bahagia dan mendapatkan keinginanmu.

PS: kalau sudah selesai PPL, Kabari ya. Nanti kita jalan lagi. :)

3. Untukmu, Sari Januarti.

Hai, bebe! Kaget ya dapet surat cinta dari aku? Hahahaha jangan mesem-mesem gitu deh nanti jadi kebaca mesum *pfffttt Bebe, gimana Batam? Cieee yang udah dapat kerjaan baru, selamat ya! Btw, kita udah lama loh ga ketemuan eh maksudnya telponan. Kalau ketemuan sih emang udah lama ya gak ketemul karena aku gak pulang-pulang *nangis sesegukan*

Hmmm, kalau cerita yang paling diinget ketika sama bebe itu, banyak. Dan yang berkesan cuma satu. Aku bikin bebe nangis, hehehehe. MAAF YA, KITA KAN GENK. Aduhlah ini surat cinta apa surat ancaman. Khilaf, waktu itu sebel-sebel gimana gitu kan kita? Abisan kamu sih bertingkah. Pilih dia atau dia? Eh malah pilih semua. Jelas dong sebagai teman paling dekat aku geram dan akhirnya terjadilah peperangan diantara kita *jreeeeng* *biar dramatis* Gapapa ya kebongkar dikit, kan bukan aib. Toh cuma kita-kita aja yang tau siapa si 'dia' dan 'dia'.

Cerita singkat itu masih sangat sedikit untuk dijadikan buku cerita kita. Kita tidak terpisahkan selama 3 tahun sekolah. Sekelas tetapi tidak duduk sebelahan, tak membuat persahabatan kita kacau balau. Ya kan? Aku juga beberapa kali berkunjungvke rumahmu. Dan kamu sepertinya hanya sekali dua kali ke rumahku. Sungguh tidak sebanding, hahahaha.

Bebe, ditunggu kedatangannya ke Jogja ya. Baik-baiklah di Batam. Kalau sedih-sedih lagi kayak kemarin, langsung bbm aja kaya biasa yess. Nanti kita voice note-an lagi. Telponannya kapan-kapan kalau bebe udah punya kartu yang sama dengan aku yaaa.

Bebe, aku simpan rahasia-rahasia kecil kita sebaik-baiknya hanya untuk kita berdua. Terimakasih sudah mempercayakan aku untuk setiap cerita ya. Jangan ragu untuk cerita lagi. Aku akan jadi kakak yang baik untukmu. Ini beneran. Bebe itu udah hebat banget menghadapi semuanya dengan tegar, tidak seperti anak bungsu lainnya yang manja dan suka ngeluh. Bebe udah jauh berbeda dari yang aku kenal dulu. Bebe lebih baik, semakin baik.

PS: Kirimin oleh-oleh dong dari Batam. Tas, misalnya. Thank you. :*

4. Untukmu, Fiqih Fitrianti.

Pikaaaiiii! Gak bisa nih bikin surat pake kata baku elu. Udah biasa bertukar cerita jebar-jeber-jebor. Jadi, kaya biasa aja yaaa, biar enak juga bacanya seolah-olah bertatap muka gitu.

Pikai, kalau biasanya orang nulis surat nannyain kabar. Kita harus mengubah cara pandang itu. Gue mau nanyain ke elu, gimana dinas malamnya? Gimana sinyal di tempat baru? Gimana dietnya? Gimana jogingnya? Hahahahaha Keceplosan pikai, ampuunnnn!

Berteman sama pikai sejak SMK dan duduk sebelahan. Gak nyangka juga bakalan betah sampai 3 tahun, hahahaha. Cerita sama pikai lebih dari banyak, karena ikut kegiatan sekolah bareng, naik angkot pulang sekolah bareng, kemana-mana itu bareng. Oiya ke wc pun bareng. Eh, bolos ke UKS juga bareng. Heran deh, suka amat ngikutin gue pikai, lu pasti nangisnya ga berhenti ya pas pisah dari gue? Ngaku deh hahaha

Pikai sekarang udah hebat banget, bisa beli motor dan kulkas dengan uang sendiri meskipun harus bersabar untuk bisa kuliah. Pikai itu anaknya rajin dan suka banget bantu. Ringan tangan lah istilahnya. Makanya ga heran kalau temennya dimana-mana.  Tapi pikai juga manusia yang punya rasa dan punya hati (kayak lagu). Pikai suka banget patah hati. Suka banget ditikung. Suka banget disakitin. Kagum juga. Kira-kira hatinya terbuat dari apa ya? Udah ngerasain jungkir balik cinta tapi masih bisa mempercayakan hatinya ke orang lain yang ia sayang.

Pikai, terimakasih yaa. Dari elu, gue belajar untuk tidak malu bersosialisasi, untuk terbuka dan percaya kepada orang-orang di sekitar. Gue yakin elu lebih banyak ngalamin asam garam kehidupan. Gue mungkin ga tau banyak semua cerita elu. Tetapi berteman sama elu, bikin gue ngerasa punya saudara. Gue jadi inget waktu kita berantem sampai diem-dieman. Gue minta maaf ya pikai. Gue semena-mena, egois dan keras kepala banget anaknya. Tetapi, elu berhasil ngubah cara oandang gue untuk tidak sering diem sendiri. Elu ngebentuk gue untuk 'sadar' lingkungan.

Pikai, elu cerita aja ke gue ya kalau lu lagi ada masalah, kalau lu lagi sedih. Maaf gue kadang ga ngerti sama yang elu rasain karena gue ga pernah ngerasain itu. Tapi gue yakin, elu ga bakalan betah untuk ga cerita ke gue *sotoy* *digetok*

Yang mau gue bilang, gue ga berubah meskipun gue jauh dari elu. Gue tetep temen cerita elu pikai. :)

PS: Buruan kuliah biar ngerasain sibuknya gue sampai ga bisa balas bbm elu.

5. Untukmu, Opie Eka Mirani.

Hey ho, kak opie! Cieee dapat surat cinta juga ya akhirnya hahahaha *digencet sampai kurus*

Aku suka memanggil beberapa teman yang seumuran dengan sapaan 'kak', lebih nyaman aja gitu. Dikarenakan mereka juga memanggilku tante, sepertimu.

Sebenarnya kita udah kenal cukup lama ya kak, tapi kita mendekatkan diri dengan cerita-cerita seputar cinta dan kehidupan baru-baru ini. Aku senang bisa kenal kak opie. Kak opie itu anaknya pekerja keras. Aku 'iri' dengan -hampir- semua hal yang ada di dalam hidup kak opi. Yang jelas, aku ingin menjadi tangguh seperti kak opi.

Mau bahas soal cinta dulu, kak? Aduh sampai dinosaurus hidup lagi juga ga bakalan selesai ya? Terlalu rumit untuk dikira-kira seperti apa akhirnya. Tetapi aku mengagumimu karena itu. Aku tahu kamu menyayangi seorang pria hingga se-be-gi-tu-nya dan sampai saat ini masih tetap setia menantikan ia kembali. Jujur saja, aku gagal paham. Seperti kata salah satu selebtwit, 'Berjuang tidak sebercanda itu.' Bahkan aku sendiri tidak berani menempatkan hatiku terlalu lama pada seseorang yang tidak jelas ingin ditujukan kemana hatinya, meskipun aku menyayanginya dengan sangat. Aku rela terluka dan membiarkannya menjadi masa lalu daripada harus menerima kenyataan bahwa ia menggantungkan cintanya dan seolah-olah membuatku tampak seperti pengemis perhatian. Aku tahu kak opie bukan tipe pengemis perhatian, hanya terlalu banyak orang-orang yang mengomentari seenak jidat. Dan kak opie tidak peduli dengan mereka. Duh.. Aku tak punya hati setangguh itu.

Sejak belum mencapai usia dua puluh tahun, kak opi sudah bisa membiyai pengeluaran sendiri dan membantu pemasukan keluarga. Sekali lagi, kamu tangguh. Aku salut.

Kak opie, terimakasih ya sudah menerima segala macem komentarku tentang semua ceritamu. Terimakasih juga sudah menginspirasiku. Ku ingatkan, jangan segan untuk bercerita tentang apa saja. Selama ini, aku cukup bisa dipercaya kan? Hehehe.

I'll be there for you kak.

PS: Ditunggu oleh-oleh nasi goreng pak haji, otak-otak, gong-gong, dan segala macem kuliner lainnya ketika kamu berkunjung ke Jogja.


Sudah dulu yaa. Aku sayang kalian :*

With Love,
Sahabat kalian semua. :*

Kamis, 05 Februari 2015

It's about Trust

Kepada seluruh anak dari keluarga broken home.

Aku baru saja menonton talkshow di televisi. Acara itu mendatangkan tamu yang sesuai dengan tema yang sedang mereka angkat yakni broken home. Setelah segmen pertama, diketahui bahwa presenter dan tamu acara tersebut adalah anak dari keluarga broken home. Aku 'khusyu' mendengarkan setiap penjelasan dan tanggapan dari psikolog yang juga hadir di acara itu.

Aku baru sadar, dampak dari keluarga broken home pada anak balita hingga dewasa itu berbeda-beda. Ketika anak usia 10 tahun ke-bawah menyaksikan perselisihan orang tua, mereka merasa sedih karena keluarga -yang mereka tahu- adalah keluarga utuh yang ada Ayah, Ibu dan Anak. Kebutuhan mereka pada saat itu adalah dekat pada orang tua karena ketakutan akan ketidak-utuhan keluarga. Sedangkan pada anak usia remaja dan dewasa jika mengetahui mereka adalah anak keluarga broken home, mereka lebih banyak mencoba untuk memahami keadaan meskipun dampaknya akan lebih tertutup kepada orang tua. Misalnya, jika ingin menanyakan sesuatu tentang perkembangan fisik ataupun sekolah, mereka akan lebih baik menahannya dan menceritakan ke diary atau teman.

Aku adalah anak dari keluarga broken home. Aku tidak bangga pada hal itu, tidak sama sekali. Apa yang pantas dibanggakan? Tentu tak ada. Lalu kenapa aku mengatakannya dengan begitu mudah kepada teman-temanku? Bahkan pada orang yang baru aku kenal? Karena aku sudah melalui saat-saat tersulit, dan aku cukup tertutup saat itu. Aku berusaha mem-block semua pertolongan yang diberikan lingkungan padaku. Aku kesepian karena merasa hanya aku-lah satu-satunya anak yang 'terbuang'.

Hari ini aku sadar, banyak anak-anak broken home di luar sana yang masih 'trauma' karena tak memiliki keluarga utuh, karena menyaksikan sendiri pertengkaran kedua orang tua mereka, karena tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan pertengkaran itu, dan karena merasa tidak cukup berharga untuk menjadi salah satu alasan orang tua untuk tetap bersama. Aku tahu bagaimana rasanya.

Sekarang, mari bersama-sama mengambil hikmah atas apa yang terjadi pada kita: padamu dan padaku yang menjadi bagian dari keluarga broken home. Tentu di masa depan kita memimpikan keluarga yang utuh dan bahagia, maka berjuanglah untuk mewujudkan itu. Kita sudah tahu bagaimana sedih, sakit, dan terluka-nya kita waktu itu dan kita tidak ingin anak-anak kita mengalaminya. Cobalah terbuka dan membentuk komunikasi yang baik pada siapapun, karena inilah saatnya kita berlatih untuk dapat berkomunikasi dengan anak. Orang tua cenderung menutup diri untuk setiap hal yang dialami, kita harus bisa mengubah cara pandang itu. Biarkan anak tahu dan menjadi bagian di dalamnya.

Untukmu, anak dari keluarga broken home. Kamu tidak sendirian. Jangan terlalu lama bersedih, ikhlaskanlah. Meskipun kita kesulitan untuk percaya pada orang lain dikarenakan 'trauma' yang kita alami, kita harus mencoba untuk menghadapi itu. Setidaknya sebagai permulaan, kamu bisa percaya pada anak yang juga merasakan 'trauma' yang sama, padaku misalnya.

PS: Jangan sungkan untuk menghubungiku dan bercerita banyak hal pun perihal trauma itu.

Rabu, 04 Februari 2015

For the First Time in Forever

Untuk Reiny Eka Putri

Halooo, Reiny!
Aaaaaa kangen sekali. Sudah hampir 9 tahun tidak bertemu. Tentu sudah banyak perubahan yang terlihat pada masing-masing kita. Apa aku bisa mengenali kamu hanya dari melihatmu saja? Ku rasa berteman di media sosial cukup membantuku untuk tidak begitu 'pangling' jika suatu hari bertemu denganmu.

Bagaimana Tanjung Batu? Ah iya kamu kan sedang menempuh pendidikan di Bandung ya? Jadi banyak menghabiskan waktu disana. Bagaimana kuliahmu? Masih aktif mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan kecerdasan emosi dan spritual yang pernah kita ikuti? Waktu itu, kita SMP kelas 1 kan? Pengalaman yang tidak bisa aku lupakan sepanjang hidupku. Jadi ingin bercerita panjang lebar. Bersedia membaca dan membantuku mengingat sebagian cerita yang terlewati, kan?

Hari apa aku lupa, aku diantar Ibu menuju ke Hotel Sampoerna Jaya. Kata Ibu, acaranya selama 2 hari, sejak pagi sekitar jam 8 sampai ba'da ashar. Hampir memasuki hotel, tempat parkir sudah dipenuhi dengan anak-anak seusiaku. Aku bersama Ibu memasuki lobi hotel. Aku melihat ke sekeliling ruangan, memperhatikan wajah satu anak ke anak lain yang bersama orang-orang tua disisi mereka. Aku merasa asing, tak ada yang ku kenal satupun. Sehingga aku melakukan hal yang paling aman: diam.

Hingga mulailah acara yang katanya bertujuan untuk bersenang-senang (diikuti ayunan tangan ketika mengatakannya, kamu ingat?), aku tetap tak menemukan teman. Untuk mencairkan ke-kaku-an di dalam acara itu, diadakan sebuah permainan. Permainannya adalah menuliskan nama teman di dalam ruangan sebanyak-banyaknya dan pengalaman lucu yang dialami. OMG! Mati kutu rasanya. Ku rasa, akulah yang paling sedikit menuliskan nama.

Awalnya kita begitu gembira. Rasanya ingin berlama-lama saja di ruangan ber-AC ini. Tak ada kerjaan lain selain menonton tayangan LCD, bertepuk tangan dan tertawa. Kemudian di pergantian acara sesekali kita 'diajak' menangis lalu menari, tertawa, 'bersenang-senang' kemudian menangis lagi. Ketika Sesi 'menangis' dan kita dibimbing untuk mencari 1 teman untuk berpelukan, kamu menarik lenganku. Aku sudah tak peduli dengan rasa malu. Airmata tumpah ruah. Kita menangis hingga sesegukan dan tetap berpelukan. Aku menepuk-nepuk pundakmu, dan kamu melakukan hal yang sama. Aku mengintip mengamati seluruh sudut ruangan dan semua anak menangis tanpa terkecuali. Aku kembali khusyuk memelukmu dan kembali menangis.

Pemberitahuan jam istirahat, aku melepas pelukan dan melihatmu. Aku ingat, seorang anak perempuan mengulurkan tangan padaku. "Reiny", sapamu.

Aku mengikuti langkahmu menuju ruangan lain untuk menyantap makanan. Baru kali ini aku mengikuti acara seperti ini. Aku bahkan tak mengerti cara menuangkan air. Iya, lugu sekali. Aku termasuk anak dari keluarga sederhana, jika saja tempat minuman itu adalah ceret, tentu aku bisa menuangkannya ke gelas dengan mudah. Saat itu, aku menjadi duplikatmu. Aku ikuti caramu menuangkan air ke dalam gelas tanpa memiringkan tempatnya. Hal yang sangat amat sederhana dan aku tak mengetahuinya. -,-

Hari itu pun usai. Kita membawa oleh-oleh pulang ke rumah: mata yang dua-duanya bengkak. Entah berapa kali kita distimulasi untuk menangis. Aku merasa lega hari ini berakhir sekaligus tak sanggup membayangkan kegiatan esok hari.

Hari kedua, aku kembali memilih tempat disampingmu. Kita mengikuti kegiatan seperti hari sebelumnya. Dan hari ini kita menghabiskan airmata tak sebanyak kemarin.

Saat itu pun tiba. Kita selesai membuat kartu anggota dan harus segera berpisah. Aku tahu kamu tidak berasal dari kota ini dan aku juga tahu aku akan kehilangan teman yang meminjamkan pundaknya selama 2 hari berturut-turut. Kita saling menukar nomor handphone. Kamu berjanji akan mengabariku jika kembali ke kota ini. Aku mengharuskan kamu melakukannya. Hari itu, kita resmi berteman. Dan memberikan kabar sesekali melalui pesan.

Reiny, aku begitu antusias menulis surat ini. Kenapa?

Untuk pertama kalinya, kamu-lah teman yang memanggilku fanny, nama yang aku sukai ketika duduk di bangku SMP. Aku telah memberitahukanmu nama lengkapku, dan kamu tetap memanggilku Fanny. Dan aku juga belum lama tahu bahwa teman-temanmu memanggilmu Putri. Aku sudah terlalu nyaman dengan nama Reiny. Tak ada satupun temanku bernama Reiny kecuali kamu.

Terimakasih, untuk pundaknya Reiny! Meskipun jarak memisahkan kita sampai saat ini, aku tetap mengingatmu dengan harapan dapat bertemu lagi.

Salam peluk dari jauh,
Fanny.

Selasa, 03 Februari 2015

Surat Penghilang Gundah

Hey, selamat sore. Ku dengar kau sedang kehabisan ide untuk menulis surat, benarkah itu? Ah, tidak seperti kau yang biasanya. Yaaaa kau memang jarang sekali menulis surat bahkan blog mu berdebu karena kau tidak intens membukanya. Heran, kau senang berbagi ceritamu ketika berhadapan dengan teman-teman dan beberapa teman dekat mempercayakan ceritanya padamu, kenapa tidak menulis saja tentang itu?

Hey, apakah kau menangis? Apa yang memenuhi pikiranmu? Apa ada yang mengganggumu? Hey, lihat aku sini. Sudah, tak apa. Biarkan saja perasaanmu mengikuti alurnya. Jangan ditahan, jangan pula disembunyikan. Nah, seperti itu. Menangislah. Sekencang-kencangnya pun tak apa. Sini ku peluk. Biasanya kalau sedang sedih pasti menyesaki dada kan? Apa begini lebih baik?

Terimakasih anggukannya. Aku senang dapat berada tak jauh darimu disaat kau membutuhkan seseorang. Aku senang berbicara denganmu seperti ini bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik. Memang kadang ada beberapa kejadian yang tak sesuai dengan keinginan kita. Jadi, jangan terganggu dengan itu. Aku yakin kau bisa melewatinya dengan baik, bahkan lebih baik dari dirimu yang dulu. Aku benar, kan?

Sudah ya, aku pasti akan selalu berada di dekatmu. Jangan nangis sendirian lagi. Janji?

PS: jika hari seperti ini datang lagi, baca saja surat ini yaa, kamu pasti dapat merasakan kehadiranku, untukmu. Aku pasti bisa menghadirkan senyum dari kegundahanmu.

Tertanda,
Dirimu sendiri.

Senin, 02 Februari 2015

Save Your Heart

Kepadamu yang menyayangiku dengan sungguh tapi tak bisa ku balas dengan kasih yang seluruh.

Selamat pagi, apa kabar? Masih ingat aku? Surat ini memang ku tujukan untukmu. Tak perlu sekaget itu. Sekarang aku sedang mencari kata-kata yang tepat agar semua yang kamu baca tak meleset jauh dari apa yang ingin aku sampaikan.

Begini, aku senang kamu telah memberanikan diri mengungkapkan satu rahasia yang telah kamu simpan sejak lama; menyukaiku. Aku pun tak memiliki alasan untuk tidak merasa bangga mengetahui kamu mengagumi aku. Aku senang kamu memperhatikanku dari dulu. Padahal aku tak terbilang baik. Sikapku acuh dan keras kepala. Tipe yang dibenci orang pada umumnya. Aku heran kamu bisa menyimpan rasa padaku. Seperti yang kamu tahu, aku tak pernah ingin bercerita panjang lebar kecuali kamu yang memintanya. Hampir selalu aku yang menjadi penyebab pertengkaran diantara kita. Ada saja ulahku yang menyebalkan kemudian membuatmu terluka. Aku sadari itu.

Hari ini, giliranku untuk jujur dan mengatakan apa adanya. Aku pernah kecewa, maka tak ku izinkan siapapun mengoyak kembali hatiku seenaknya. Aku tak menemukan jalan untuk percaya ada cinta yang mampu menyembuhkan hati yang patah. Berhentilah menyemangati aku. Aku bukan anak-anak. Aku muak pada semua yang sementara, termasuk kalimat itu. Saranku, berhentilah menyakiti dirimu sendiri dengan menaruh hati padaku. Tak ada yang perlu kamu buktikan untukku, tak ada. Ah, bodoh. Aku tak punya kuasa melarang perasaan seseorang padaku. Benar, tak seharusnya aku berkata demikian. Aku hanya tak ingin menyakiti bahkan aku tak berniat sama sekali. Pergilah. Menjauhlah. Hatimu berhak diselamatkan. Kamu baik, temukanlah ia yang mampu membalas rasamu dengan sempurna. Dan yang kamu cari, bukan aku.


(Terinspirasi oleh @OpieMagnolia)

Minggu, 01 Februari 2015

Janji pada Ibu

Selamat pagi, bu.
Maaf aku kesiangan dan tak melakukan apa-apa untuk membantumu memasak dan membersihkan peralatan dapur. Pun tak juga berinisiatif untuk sekedar mengambil sapu lidi lalu membereskan tempat tidur. Anak gadis seperti apa aku yang sudah kepala dua masih saja berpangku tangan atas tugas yang sangat wajar bagi perempuan seusiaku?

Aku menarik nafas panjang, malu pada diriku sendiri.

Aku mencari ibu, beranjak dari kamar menuju dapur. Di atas kompor, ada panci berisi sup ayam. Ku sentuh gagangnya, masih panas. Aku melihat sekeliling dan tak ku temukan piring, sendok, pisau, mangkuk yang kotor. Ibu sudah selesai, gumamku.

Aku menunggu di kamar, berharap ibu segera datang.

Tak berapa lama kemudian, aku mendengar langkah kaki. Ibu membuka pintu kamar. Aku lega. Ibu melihatku sekilas lalu menutup pintu. Ibu menggunakan jaket angkatan milikku. Wajahnya pucat, menggigil. Aku bertanya-tanya dalam hati. Ibu duduk lalu merebahkan badan. Aku mencari kaus kaki lalu mengenakannya pada kedua kaki ibu yang seluruh ujung jarinya dingin. Aku mengambil selimut tebal, dan membungkus tubuh ibu dengan tanggap. Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku tak tahu Ibu sedang tak sehat. Aku memegang kening Ibu, hangat. Aku bergegas mencari paracetamol di dalam kotak obat, tak ku temukan. Ibu memperhatikan aku. Ibu meraih tangan kananku kemudian diletakkan di atas dahinya. Aku diam, menuruti bimbingan tangan ibu.

Tak sedikitpun aku memalingkan pandanganku dari wajah Ibu. Aku merasa belum pernah berbakti dengan sungguh-sungguh padanya. Hal apa yang ku lakukan sehingga membuat Ibu bangga? Juara kelas? Adakah selain itu? Hal apa yang membuatnya bersyukur telah merawatku dari kecil? Ketidak-alpa-an ku pamit lalu mencium punggung tangannya? Adakah selain itu? Hal apa yang membuatnya tertawa mengingatku? Tingkah konyolku? Adakah selain itu? Tak ku temukan jawaban untuk semua pertanyaan menggelikan yang mengelilingi kepalaku. Aku mengutuki diriku sendiri yang selama ini acuh tak acuh pada Ibu.

Ibu, aku mohon maaf.
Aku berjanji untuk menghilangkan rasa malas dan kembali memompa semangat menuntut ilmu menuju wisudaku.
Aku berjanji untuk bangun lebih pagi dan membantumu menyelesaikan pekerjaan rumah.
Aku berjanji untuk merendahkan suara ketika berbicara agar tak terdengar berisik dan mengganggu.
Aku berjanji untuk lebih banyak bersyukur dan tak menuntut ini itu.
Untuk semua janji, aku tetap memerlukan bimbingan ibu, teguran ibu, pelukan ibu, semua yang ada padamu, ibu.
Tapi hari ini,
Aku akan menepati satu janji: merawatmu sampai kembali pulih, aku janji.
Lekas sembuh, ya bu.
Aku sayang Ibu.