Jumat, 30 Oktober 2015

#sumpahku

Salam pemuda!

Hari ini, 28 Oktober 2015 diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Perjuangan pemuda 87 tahun lalu patut dikenang dan dijadikan motivasi untuk meneruskan tekad baja dan semangat yang membara. Saat ini tidak lagi tentang mengusir penjajah dan bukan pula tentang meraih kemerdekaan. Tetapi, apa yang bisa pemuda lakukan untuk menghidupkan Indonesia dan membuat Ibu Pertiwi bangga.

Buatlah perbedaan! Kata-kata ini sering muncul untuk mengajak pemuda berpikir dan melakukan sesuatu yang inovatif dan  kreatif. Bahkan di sekolah, di kampus ataupun di kantor, pemuda dituntut untuk menjadi pribadi yang out of the box.

Sesungguhnya banyak sekali hal-hal "biasa" yang bisa dilakukan pemuda untuk tanah airnya. Tidak selalu harus berbeda ada segala hal yang "besar" dan "mengejutkan". Seperti misalnya yang ingin saya lakukan adalah, berinisiatif untuk tersenyum dan menyapa orang lain lebih dulu. Sebenarnya ini mudah tetapi sering kita lupakan. Kita terlalu asik pada dunia kita sendiri. Padahal ini melatih pemuda untuk peka pada lingkungan dan menciptakan hubungan baik antar sesama. Senyuman dan sapa yang kita berikan akan memberikan efek kepada orang lain bahwa keberadaannya di hargai. Membuka pembicaraan mengenai sesuatu yang umum (seperti menannyakan kabar, apa yang sedang dilakukan) tentu membuat suasana menjadi cair dan nyaman.

Sekian. Jika kamu adalah seorang pemuda dan ingin berbagi apa hal "biasa" yang ingin kamu lakukan untuk Indonesia, silahkan :)

#latepost
#sinyaleror

Berpura-pura

Aku bosan. Karena kita memiliki hubungan yang standar. Ah, maksudku terlalu berjalan biasa saja. Tak ada kejutan-kejutan kecil. Tak ada canda-canda renyah. Tak ada pertemuan meski hanya sekejap. Tak ada yang seperti saat kita belum menjadi kita.

Mungkin kita sedang dalam periode yang mewajarkan jika segala sesuatu terjadi tidak semestinya. Telat memberi kabar, sehari tidak menelepon, atau hal sepele lainnya.

Menurutku, tak ada hal yang sepele. Semua hal kecil yang kamu lakukan untukku, spesial dan menenangkan. Tetapi mungkin kita sudah berbeda sekarang. Kita fokus pada hal-hal yang ingin kita capai di masa depan, sehingga tak begitu memperhatikan bagian yang kecil. Meski aku tahu, masa depan itu pun tentang impian kita.

Lalu, pada suatu hari kita berdiskusi. Tampaknya rindu mulai lagi membuat masalah, kataku. Dan kamu mengiyakan. Begitulah kesimpulan yang kita sepakati tentang beberapa masalah yang terjadi belakangan. Salah, sayang. Kita salah mengartikan.

Sekarang aku sedang bersandiwara segalanya berjalan baik-baik saja. Ya, aku tahu aku sedang bermain peran bahwa tidak terjadi apa-apa yang mengkhawatirkan kita. Entah sampai kapan, tetapi jika ini menyelamatkanmu dari kesedihan atas tuntutanku menginginkan pertemuan, candaan, dan segala yang ada padamu, aku tak mengapa. Aku tidak apa-apa. Selamanya, aku mampu berpura-pura.